Bara di Borobudur

Utusan

Sambil menarik napas dalam-dalam, Ki Hanggapati mengatakan, ”Tentu sangat berat bagi Ki Wisanggeni untuk memutuskan ia harus berada di pihak yang mana. Begitu juga yang terjadi pada anaknya, Lembu Daksa. Aku sendiri mungkin tidak akan sanggup berbuat seperti Ki Wisanggeni atau Lembu Daksa. Menurutku, keduanya tidak dapat disalahkan atau juga dibenarkan. Karena masing-masing sudut dari kebenaran dan kesalahan adalah tergantung pendirian dan pengalaman kita.”

“Dan bukan tidak mungkin karena peristiwa itulah, akhirnya menjadikan sepak terjang Ki Wisanggeni seperti tidak ada kendali dalam dirinya,” berkata Ki Swandanu. Lalu katanya lagi, ”Sekelumit kisah di pertempuran Sumur Welut tidak dapat dijadikan landasan untuk menarik kesimpulan yang sangat penting terkait perubahan yang dialami oleh Ki Wisanggeni.

“Namun begitu, jika ia dapat meloloskan diri dari pertempuran besar yang di dalamnya ada Ki Jayapawira, Mpu Tandri dan Ki Banawa, maka hal itu telah menunjukkan tingkat ketinggian ilmunya. Dan di antara berita pilu yang kita dengar, ternyata ada satu berita yang membanggakan. Angger Gumilang Prakasa mampu memimpin pasukan berkuda dalam jumlah besar dan sangat tangguh terlibat di peperangan yang luar biasa.”

“Gumilang tidak berhenti untuk meluaskan wawasan, Paman. Ia banyak menimba ilmu dari perwira-perwira yang lebih berpengalaman, terutama kepada Mpu Drana,” kata Bondan.

Setapak ia bergeser maju.

”Paman baru mengatakan bahwa sikap Ki Wisanggeni seolah tidak terkendali. Apa yang terjadi dengannya di Pajang, Paman?” bertanya Bondan pe-nasaran.

“Kami berdua akan mengatakan itu kepadamu, namun kami tidak akan mendahului Nyi Retna dan Ki Banawa. Di kotaraja, mereka berdua adalah orang tua bagimu, Ngger. Dan aku kira malam ini kita tidak perlu terlalu dalam berbincang,” jawab Ki Hanggapati. Ki Swandanu menganggukan kepala dan Bondan melapangkan dadanya sambil menarik napas panjang.

Lalu Bondan berkata, ”Ki Wisanggeni. Pasukan Paman Ken Banawa memang tidak mengejarnya ketika meninggalkan medan pertempuran. Hanya saja saya tidak menyangka jika ia telah berada sangat jauh dari kotaraja.

“Marilah, Paman berdua dapat beristirahat di gandok kanan yang sudah disiapkan untuk paman berdua melepas lelah. Sementara kedua kuda Paman sudah dalam perawatan di halaman belakang.” Bondan segera bangkit dan mendahului kedua orang Pajang berjalan menuju gandok kanan.

Malam yang terang dengan kerlip bintang seakan menenangkan penduduk kotaraja bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang buruk malam itu. Sebenarnyalah keadaan kotaraja saat itu sudah cukup tenang di malam hari jika dibandingkan beberapa waktu lalu ketika Mantri Rukmasara tewas terbunuh di dalam rumahnya.

Di dalam biliknya, Bondan mengambil tempat untuk sebuah perenungan. ia ingin mengenang kejadian-kejadian yang dilewatinya.

Pada masa sebelum itu, sebelum kedatangan Ki Swandanu dan Ki Hanggapati, para prajurit yang setia pada Lembu Sora dan Gajah Biru sesekali melakukan usaha untuk menuntut balas kematian kedua panglimanya. Namun permintaan mereka ditolak oleh Ra Dyan Wijaya dan sama sekali tidak diperhatikan oleh penerusnya, Sri Jayanegara.

Oleh karena itu,  pada masa pemerintahan Sri Jayanegara sering mendapat gangguan keamanan. Hingga akhirnya Mpu Nambi memerangi pasukan yang dahulu berada di bawah naungan Lembu Sora dan Gajah Biru. Untuk sementara waktu, Mpu Nambi mampu menghalau mereka keluar dari kotaraja. Maka atas saran dari Mpu Nambi, pasukan Ki Nagapati melakukan perjalanan panjang. Pasukan yang setia pada kedua panglima itu kemudian bergerak menuju Pajang di bawah pimpinan Ki Tumenggung Nagapati.

Semua orang yang tergabung dalam pasukan itu kemudian meninggalkan kotaraja, sanak keluarga dan kerabatnya. Mereka menjadi kaum yang terusir dari tanah yang mereka cintai sepenuh hati. Pasukan berkuda Ki Nagapati berderap menjauh dari kotaraja dengan hati teriris. Saat mereka melewati tapal batas paling luar dari wilayah kotaraja, seorang bekel pedukuhan yang merupakan kerabat Ki Nagapati melantunkan sebuah syair yang menggambarkan secara singkat kejadian yang menimpa mereka.
Ketika dua panglima mereka dihukum mati
dengan cara mengenaskan,
ketika dua panglima mereka dibunuh
tanpa alasan yang dapat mereka terima
mereka menerima perintah dari pemimpin yang mereka hormati.
Perintah yang berbuah kenyaan pahit.
Terbuang dan terusir!
Untuk apa sebuah pengorbanan jika engkau terusir?
Kepada siapa harus diberikan sebuah pengorbanan jika engkau disia-siakan?

Demikianlah kemudian mereka bergerak menuju Pajang dengan sebuah harapan akan diterima oleh Bhre Pajang yang masih saudara dekat Ra Dyan Wijaya.

Related posts

Leave a Comment