Bara di Borobudur

Dua Utusan

 

Di bawah keremangan senja, dua ekor kuda berderap cepat mendekati kotaraja. Debu tebal mengepul terlanda jejak kaki kuda. Tiga orang pengawal pintu gerbang kota telah melihat kedua penunggang kuda yang melesat bagaikan kilat ke arah mereka.
“Bila bukan berita penting, lalu atas alasan apa mereka memacu kuda seolah dikejar setan?” gumam pemimpin pengawal dengan nada sambil menoleh pada dua pengawal yang lain. Keduanya menggelengkan kepala. Bertiga mereka berjalan dengan langkah lebar lalu berdiri di depan pintu gerbang seraya merundukkan senjata.
Ketika kedua penunggang kuda itu semakin dekat dengan gerbang kota, mereka menarik tali kekang dan melambatkan kuda-kudanya.
“Mereka bukan orang sekitar tempat ini.” Kepala pengawal menatap tajam sambil berkata dalam hatinya. Ia membuat perkiraan tentang waktu tempuh dua orang yang makin mendekati gerbang. Kemudian dengan mengangkat tangan, lelaki dengan lengan berotot ini meminta kedua penunggang kuda untuk berhenti.
“Siapakah Ki Sanak berdua?” ia bertanya setelah kedua penunggang kuda itu melompat turun.
Keduanya maju dan membungkuk hormat lalu menjawab, ”Kami datang dari Pajang. Kami berdua adalah utusan Resi Gajahyana.”
Kepala pengawal bergumam, ”Resi Gajahyana.”
Ia mengerutkan kening, lalu katanya, ”Saya tidak pernah mendengar nama yang Anda sebutkan. Tetapi baiklah… Ki Sanak, dapatkah memberi kami satu atau dua nama dan alasan Ki Sanak datang ke kotaraja?”
Kedua utusan itu saling memandang sebentar. Sebenarnya mereka sedikit banyak telah mendengar keadaan di kotaraja. Namun mereka bukanlah pengikut dari Gajah Biru atau Lembu Sora sehingga dengan begitu mereka berdua merasa tidak akan terjadi masalah.
Lalu seorang dari mereka melangkah maju dan sedikit membungkukkan tubuhnya, ”Saya bernama Ki Swandanu. Dan temanku ini, Ki Hanggapati. Kami ingin bertemu dengan Ki Rangga Ken Banawa.”
“Baiklah,” berkata pemimpin pengawa sambil membalas penghormatan. Ia memberi perintah pada anak buahnya untuk memeriksa kantung yang tergantung di sisi pelana. Ki Swandanu dan Ki Hanggapati tidak merasa keberatan Untuk beberapa lama, mereka berdua menunggu pemeriksaan yang dilakukan oleh para pengawal gerbang kotaraja.
Pemimpin pengawal berkata kemudian, ”Silahkan Ki Sanak melanjutkan perjalanan.”
Demikianlah, setelah melewati beberapa bulak panjang yang belum ditanami, mereka kemudian mendekati alun-alun lalu berbelok ke utara sesuai pesan dari Resi Gajahyana. Derap kaki-kaki kuda tidak terlalu mengejutkan orang yang berpapasan dengan kedua utusan dari Pajang. Mereka tidak memacu kuda begitu cepat.

Malam perlahan menyelimuti kotaraja.
Para peronda di regol halaman rumah yang menjadi tujuan dua orang Pajang bertukar pandang. Mereka melihat kedua penunggang kuda menghampiri rumah Nyi Retna Ayu Indrawati.
“Menjelang tengah malam seperti ini?” desis seorang peronda seraya melirik ke atas.
“Tidak ada yang salah,” seorang dari mereka menyahut, “mungkin mereka membawa berita penting.”
Sama halnya dengan sikap para penjaga pintu gerbang, para peronda yang berada di regol halaman rumah segera memberi perintah untuk berhenti bagi kedua penunggang kuda itu. Derap kaki kuda yang mendekati halaman itu pun mengundang perhatian bagi Nyi Retna dan penghuni rumah yang lain. Hampir bersamaan ketika mereka menunggu di beranda depan.
Seorang peronda segera menaiki pendapa dan mengatakan beberapa hal kepada Sela Anggara. Sepupu Bondan ini lantas keluar menyambut peronda itu.
Sebelumnya ia berbisik pada peronda, “Beritahu Bondan tentang kedua tamu kita malam ini. Ia sedang berada di sanggar seorang diri. Agaknya ia tak juga berhenti mengasah kemampuan.”.
Kemudian peronda itu melangkah lebar memutar melalui pintu kecil yang berada di dekat gandok kanan. Sanggar keluarga Nyi Retna berada agak jauh dari rumah induk. Sanggar itu berada tepat di tengah-tengah halaman belakang.
Penampilan kedua utusan Pajang itu menarik perhatian. Di bawah terang lampu minyak, salah seorang diantaranya tumbuh janggut dan kumis yang lebat. Sedangkan rambut kedua orang itu diikat rapi oleh sebuah kain dengan gambar burung merak seperti yang biasa dipakai oleh Bondan. Semakin yakinlah Sela Anggara terhadap kedua orang yang mengaku utusan dari Resi Gajahyana, guru Bondan.
“Selamat malam. Marilah silahkan naik ke pendapa, Ki Sanak berdua,” berkata Sela Anggara menyilahkan kedua tamu dari jauh.

Related posts

Leave a Comment