Bara di Borobudur

Kepala Bondan tertunduk dalam. Pada waktu itu, ia mengingat kembali kasih sayang yang dicurahkan Ki Swandanu kepadanya. Semasa ia digendong di atas kedua bahu Ki Swandanu, saat ia belajar menunggang kuda bersama Ki Swandanu dan banyak lagi yang terlintas dalam diri Bondan tentang masa lalunya.
Ki Swandanu lalu melanjutkan, ”Memang benar seperti yang dikatakan angger Bondan. Semenjak kehadiran beberapa orang asing di tengah-tengah pasukan Ki Nagapati memang terjadi perubahan yang cukup berbahaya. Agaknya mereka berasal dari tanah seberang. Cara mereka berbicara dan berpakaian nampaknya mereka berasal dari negeri yang sama dengan orang-orang yang pernah bergabung dengan Raden Wijaya.”
Ki Hanggapati menambahkan, ”Mereka berjumlah lebih dari lima orang. Di antara mereka, sekitar empat orang mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Menurut kabar yang dibawa oleh pengamat dari Pajang, mereka telah bergabung menjadi satu kelompok. Tentu saja itu akan menambah kekuatan mereka. Pengamat dari Pajang juga mengatakan bahwa kelompok Ki Nagapati telah berpindah ke lereng sebelah barat Merbabu. Mereka berjalan melingkari gunung itu dalam jumlah yang sangat besar.”
“Ditambah dengan beberapa orang perempuan dan anak kecil, menurut pengamat Pajang, mungkin mereka sekarang berjumlah sekitar seribu orang,” Ki Swandanu menyambung keterangan.

Sebenarnya mereka berlima belum tiba pada akhir pembicaraan ketika matahari telah bergulir melewati garis tengah langit. Seorang perempuan setengah baya membawa jamuan makan siang ke pendapa.
“Marilah kita beristirahat dulu. Selepas makan siang ini nanti mungkin kita lanjutkan pembicaraan ini. Sementara bahan-bahan yang diperoleh dari Ki Swandanu dan Ki Hanggapati belum dapat dikatakan cukup untuk memberi arah bagi Bondan selanjutnya,” Nyi Retno menutup perkataan sembari mempersilahkan orang-orang untuk menikmati hidangan yang tersaji.
Demikianlah kemudian orang-orang yang berada di pendapa melakukan makan siang bersama, percakapan ringan mewarnai keakraban yang sebenarnya terjalin begitu lama.

Related posts

Leave a Comment