Bara di Borobudur

“Pergeseran yang terjadi di kotaraja telah terdengar hingga Pajang. Berita-berita tentang apa yang terjadi di kotaraja, Sumur Welut dan Bulak Banteng tiba di Pajang secepat angin bertiup,” Ki Swandanu beringsut maju setapak.
“Begitu cepat pengamat sandi dari Pajang menebar keterangan, barangkali juga tidak ada secuil yang dapat terlewat,” berkata Ki Banawa.
“Bukan seperti itu, Ki Banawa. Para pedagang yang menuruni lembah, menyeberangi sungai menebarkan berita itu dari mulut ke mulut. Perpindahan besar-besaran para pengikut setia Lembu Sora dan Gajah Biru sangat mencemaskan Resi Gajahyana.” Ki Swandanu berhenti sejenak, kemudian bergantian memandang wajah dua orang yang disegani Bondan. Lalu katanya lagi, ”Tentu saja Ki Banawa dan Nyi Retno telah mengetahui perpindahan pasukan yang cukup besar itu. Kemudian setelah mereka sampai di tepi batas luar Pajang, Ki Tumenggung Nagapati mengirimkan utusan untuk menemui Bhre Pajang. Namun tidak segera mendapatkan izin, Bhre Pajang meminta waktu barang sehari dua hari untuk memutuskan kesediaannya menemui Ki Tumenggung Nagapati.”
“Memang kami telah mendengarnya, Ki Swandanu. Saat pasukan yang dipimpin Mpu Nambi menghalau mereka keluar dari kotaraja, kami sedang terlibat pertempuran di Sumur Welut. Aku mendengarnya ketika seorang utusan Mpu Nambi datang ke pedukuhan Wringin Anom. Ia menyampaikan pesan agar aku secepatnya kembali ke kotaraja bila peperangan di Sumur Welut telah kami menangkan,” kata Ki Banawa, ”saat itu kehadiran Bondan dan Mpu Drana benar-benar membantu kami memukul mundur pasukan Ki Sentot Tohjaya. Ditambah semangat juang para pengawal Wringin Anom dan Sumur Welut yang serba sedikit mampu membuat kecil arti perjuangan pasukan Ki Sentot.”
“Ki Tumenggung Nagapati?” desah Bondan perlahan, ”ia seorang tumenggung wreda. Salah seorang tumenggung yang dipercaya Ra Dyan Wijaya untuk memimpin satu pasukan khusus.”
“Ia pemimpin pasukan khusus?” terkejut Ki Hanggapati. Sesaat ia menundukkan kepala, lantas menoleh ke arah Ki Swandanu, kemudian ia melanjutkan, ”Mungkin itu juga jadi alasan Bhre Pajang tidak mengijinkannya masuk kota Pajang. Dan juga tidak bersedia mengusir keluar dari wilayah Pajang.”
“Itu bisa menjadi satu alasan yang ada, Ki Hanggapati,” ucap Ki Swandanu seraya menyapukan pandangan mata, ”tentu saja mereka adalah sekelompok orang yang benar-benar tangguh. Jika mereka adalah satu pasukan khusus, maka aku jadi mengerti mengapa Eyang Gajahyana mengirim kita kemari.”
Ken Banawa tersenyum penuh arti. “Tidak selalu begitu, Ki Swandanu. Tidak selalu,” berkata Ken Banawa pada utusan Resi Gajahyana, ”pasti ada sebab yang lain yang menjadi kekhawatiran eyang Gajahyana.”
“Saya sependapat dengan paman Banawa. Eyang mungkin merasakan ada gangguan-gangguan yang menimbulkan gejolak di tengah-tengah rakyat Pajang. Meskipun gangguan itu sangat kecil tetapi beliau sudah tentu mempunyai penilaian yang berbeda dengan kita semua,” kata Bondan. Ia melanjutkan, ” Saya mengenal jalan pikiran eyang menilai suatu persoalan. Maksud saya, eyang sudah menilai Bhre Pajang tidak akan memerintahkan prajuritnya menyelesaikan masalah yang disebabkan oleh kehadiran Ki Tumenggung Nagapati.”
“Kau benar-benar mengenali eyangmu dengan sangat baik,” berkata Ki Swandanu.
Bondan berdiam diri seolah tidak mendengar yang dikatakan Ki Swandanu. Dadanya bergemuruh seperti dilanda angin puting beliung. Menurutnya, perintah Resi Gajahyana harus terlaksana dalam waktu singkat. Ia melupakan sesuatu yang penting, bahkan bakal menjadi sangat penting dalam hidupnya. Lalu Bondan berkata, ”Jika demikian, saya akan menyusul Gumilang di Watu Golong dan membawa beberapa ratus pasukan berkuda menuju Pajang.”
“Angger Bondan, lakukan pengamatan dalam dirimu. Kau tidak dapat serta merta menyerbu pasukan Ki Tumenggung Nagapati. Sementara kita belum memahami letak persoalan yang sebenarnya,” berkata Nyi Retno sambil menggelengkan kepala perlahan.
Desir lembut kata-kata bibinya seperti menyiramkan air sejuk dalam hati Bondan. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, dan menghela panjang sambil berkata, ”Baiklah, Bibi.” Sambil berpaling pada Ki Swandanu, ia berkata, ”Maafkan saya, Paman. Silahkan Anda melanjutkan uraian-uraian seharusnya disampaikan.”
“Tidak mengapa, Ngger. Aku pernah muda sepertimu, bahkan aku pula yang menjadi satu dari sekian banyak orang tua yang berada di dekatmu semenjak kecil.” Tersenyum Ki Swandanu seraya memegang tangan Bondan yang telah terkepal.

Related posts

Leave a Comment