loading...
Prosa Liris

Di tengah ayunan kaki yang lebar, mungkin dapat dikatakan bahwa Bambang setengah berlari, ia mengingat dengan keras bahwa sebenarnya ia tidak pernah bergaul dengan purel. “Lalu apa hubungannya dengan purel yang melahirkan?” Bambang bertanya dalam hatinya.

Dua jam kemudian, ia telah memangku boneka yang diakui oleh purel itu sebagai anak dari lendir yang disebar Bambang.

“Oh kegilaan apakah ini?” Bambang memperhatikan boneka. “Ini jelas boneka plastik,” desisnya. Kemudian ia mengangkat wajah lantas mengedarkan pandangan pada orang-orang yang duduk berjajar rapi di hadapannya. Menunggu titah sang prabu, Bambang Tiwikrama.

“Kalian telah berbaris rapi dalam duduk. Di depanku, saat ini. Aku tidak meragukan kesetiaan kalian dan perjuangan selama ini telah cukup memberiku bukti. Kalian bicara tentang sesuatu yang tidak dapat digambarkan oleh kata-kata, tetapi aku? Kalian harus tahu bahwa aku menginginkan kejayaan, kehormatan dan pengakuan tinggi.

“Perlu kalian pahami bahwa aku tidak pernah membunuh. Tidak meniduri perempuan dengan cara sembarangan. Tidak pula bersetubuh dengan sembarang perempuan. Lantas bagaimana boneka ini kalian katakan sebagai anakku?”

“Tuan,” berkata seorang lelaki yang telah diizinkan untuk bicara. “Kami mengenal Anda dan pengakuan Anda itu adalah kebenaran. Tetapi kelahiran boneka dari rahim seorang purel itu juga sebuah kebenaran.”

Bambang tidak menunjukkan air muka yang berbeda. Ia masih berwajah garang dan seakan siap menelan semua orang yang berada di dekatnya.

“Seonggok daging ternyata mampu melahirkan 100 orang Kurawa,” masih berkata lelaki itu.

Namun Bambang memangkasnya. “Siapakah kamu?”

“Aku adalah Sawung Telo.”

“Bicaralah!”

“Aku pun berdiri dengan sedikit pongah. Kau tahu aku kan?” senyum Sawung Telo padanya yang masih ndlongop. “Baiklah, aku lanjutkan ceritanya.”

Radio Sawung Telo berbunyi lagi.

“Tuan tentu tidak dapat menerima kenyataan yang terpapar jelas di bawah penglihatan Anda. Mana mungkin, mustahil, impossible adalah tiga kata yang sudah pasti ada di benak Tuan.

“Tuan Bambang, setelah Pandawa berhasil memenangkan perang di Kurusetra, apakah itu berarti mereka tidak mendapatkan hukuman atau akibat? Bagaimana perasaan seorang kakak ketika membunuh adiknya sendiri? Bagaimana perasaan seorang ibu yang bermusuhan dengan anaknya? Tentu kita sangat sulit merasakannya apabila kita tidak berada di dalam keadaan yang sama. Begitu pula denganku. Aku tidak dapat mengerti perasaan Anda, tetapi mampu memahami penolakan Anda.”

“Engkau bicara seperti baling-baling bambu Doraemon.”

“Itulah kenyataannya, Tuan. Kadan gkita bahagia dengan jalan yang memutar. Ada kalanya kita menjadi Nobita, meski tak jarang kita adalah Azula dari Kerajaan Api. Namun di balik itu semua, kita selalu mencoba bahagia dengan keadaan yang sedang dijalani. Bukankah begitu?”

“Engkau ingin berkata bahwa membunuh adalah kenikmatan? Pemerkosaan itu menyenangkan?”

“Tuan, Sencaki adalah seorang ksatria besar. Kita mengenal Kumbakarna sebagai seorang pahlawan. Namun Anda sedang berada dalam keadaan yang unik. Ini seperti Yesus yang lahir tanpa ayah, seperti Adam yang tiba-tiba ada tanpa orang tua, seperti Hanoman yang muncul dari batu hitam.”

“Gendeng! Kau campur aduk antara kisah nyata dengan rekaan.”

“Lha kita sendiri kan juga sedang direka oleh penulisnya? Sampean lali ta Cak? Kita ini kan juga kisah fiksi yang ditulis lalu dapat dibaca secara nyata. Sik ta, sakjane sing gendeng iki aku opo sampean sih?”

“Baik, baik. Wong gendeng iku bebas.” Bambang menahan geram. “Lanjutkan!”

Related posts

Leave a Comment