Prosa Liris

Dikisahkan cerita ini oleh Sawung Telo padaku saat matahari enggan beranjak dari singgasana. Kisah tentang dia, dia adalah lelaki yang dipanggil orang-orang di desanya sebagai Bambang Tiwikrama. Sawung Telo pernah mengatakan padaku bahwa ia tidak mengerti alasan di balik nama Tiwikrama. “Bahkan dengan nama Bambang pun tidak dapat menggambarkan kebagusan wajahnya,” ujar Sawung Telo pada suatu ketika.

Bambang Tiwikrama. Itu adalah nama yang diucapkannya setiap kali ada orang bertanya. Itu bukan nama pemberian dari orang tuanya. Bambang Tiwikrama lahir di sebelah utara hutan Madumangsa pada hari Selasa dengan pasaran Kliwon. Ia bersuara atau mulai dapat berbicara pada saat musim berada di bawah naungan Batara Sakri. Namun ia bukan anak Maharaja Watugunung.

“Pengkhianatan!” geram Bambang Tiwikrama setelah mendengar betapa orang-orang ramai berbahas tentang keburukan yang tidak pernah ia lakukan. Petruk menyimak dengan seksama. Menurut Petruk, Bambang Tiwikrama lebih mirip Naruto jika gagal menjadi The Last Hokage. “Beda tipis. Naruto berkumis tipis dan dapat dihitung dengan jari keriting, sedangkan Bambang? Ia berkumis tebal,” kata Petruk tapi Gareng tampak tidak peduli.

“Itu fitnah. Fitnah. Fitnah. Fitnah!” panjang teriak Bambang sambil mengepalkan tangan. “Banyak kata yang berlarian ke segala penjuru setelah mereka berpusar seperti pusaran air laut, kemudian mereka beterbangan mencari ibu susuhing angin. Ucapan mereka menggema serupa dengan tambur yang dipukul tanpa irama dan nada.”

“Pernahkah engkau mendengar kata-kata mereka?” Petruk bertanya sambil mengiris hidungnya agar menjadi lebih pendek.

“Tidak.” Kata Bambang kemudian, “Aku hanya dapat melihat kereta perang dengan sepasang prajurit di atasnya. Mereka telah menarik busur. Mereka berbusung dada. Mereka…” Mendadak Bambang bungkam.

Suasana begitu sunyi. Waktu berhenti bergerak.

“Apabila engkau tidak berani mengangkat senjata untuk berdiri berhadapan, maka satu-satunya jalan bagimu untuk membalaskan sakit hati adalah menggunting dalam lipatan. Lakukan itu jika tidak ada lagi jalan yang dapat menuntunmu menuju lorong panjang yang gelap.” Suara Petruk mengalun dari atas kepala angin.
“Bagaimana mungkin?” gerak tanya bibir Bambang.
“Hanya itu yang dapat dilakukan oleh para ksatria. Orang-orang pemberani tidak pernah meninggalkan gelanggang perang sebelum darah mengering, mereka enggan beranjak sebelum padang menjadi subur karena siram basah darah prajurit. Apabila engkau berada di dalam kurun itu, maka persendian tulangmu akan terasa nyeri, bibirmu akan kering, pita suaramu akan terputus dan bulu kulitmu akan meremang.
“Saat itu, mungkin engkau akan berkata, ‘Aku tak mampu lagi berdiri.’
“Tetapi hatimu akan menolak jika engkau membawanya pergi. Maka lihatlah pada satu sisi, akan terlihat olehmu sebaris orang-orang yang mengaku sebagai darah dagingmu, kerabatmu atau saudaramu. Lantas, berpalinglah ke sisi yang lain. Kemudian bertanyalah, apakah engkau mencari kemenangan ataukah engkau ingin disebut sebagai pemenang?”

Bambang Tiwikrama. Lelaki yang gemar berkubang lumpur. Ia adalah seekor kerbau tak bertanduk.

Ia menjawab, “Aku tidak mencari kemenangan dan bukan pula seorang pemenang.” Bambang terperanjat. “Petruk? Bagaimana tiba-tiba ia menjadi bijaksana? Apakah karena hidung yang tidak lagi panjang? Ataukah kini ia berubah menjadi Pinokio? Petruk oh Petruk.”
Bambang berjalan mengelilingi Petruk yang duduk bersandar pada sebatang pohon randu alas. Kemudian kata Bambang, “Engkau datang ke tempat ini bukan sebagai tumbal atau sesaji yang sedap bagi raksasa penunggu hutan Madumangsa.”

“Tetapi kau dapat melihat belasan gelang emas berjajar memenuhi seluruh bagian tanganku. Lihatlah!”

Bambang mengibaskan tangan. Ia menolak untuk melihat lebih dekat karena sebuah pesan masuk dari perangkat telepon genggamnya. Dari sebuah Whatsapp Grup ada satu pesan [Ndang mulih, cak. Ono purel nglairno]

Related posts

Leave a Comment