Armuji Hanya Bilang : Mundur

Opini

Sandiwara politik? Mungkin. Itu adalah pikiran pertama setelah terkejut. Fakta pun mendukung bahwa hingga kini belum ada pengumuman resmi dari DPC PDI Perjuangan Surabaya yang menyatakan : telah menerima surat pengunduran diri tersebut. (koreksi bila salah).

Hal itu mendapat sorotan tajam dan komentar keras dari PDI Perjuangan sendiri.

Sebagaimana yang dikutip dari detik.com : Dikatakan oleh Anas Sukarno, Ketua Badan Pemenangan Pemilu Surabaya,

“Kita anggap tidak ada. Masih resmi menjadi cawawali karena belum kami terima surat pengunduran dirinya. Karena Cak Armuji itu kan sebagai cawawali itu masuknya atau daftarnya di DPC PDIP Surabaya,” terang Anas.

Menurut Anas, jika memang benar-benar Armuji berniat untuk mundur dari pencalonan, maka seharusnya memyerahkan surat resmi pengunduran dirinya dan disampaikan ke DPC PDIP. Dari surat itu kemudian diteruskan ke tingkat DPD PDIP dan baru dikirim ke pusat.

“Jadi yang benar, pertama kalau betul akan mundur mestinya secara hukum Pak Armuji datang dan menyerahkan surat pengunduran dirinya. Disampaikan kepada ketua DPC PDIP Surabaya. Setelah surat pengunduran dirinya diterima maka akan dirapatkan di cabang surat itu,” tuturnya.

“Dan setelah itu akan direkomendasikan ke tingkat pimpinan daerah. Kemudian dari pimpinan daerah akan dilanjutkan ke tingkat pusat atau DPP,” pungkas pria yang juga Ketua Bappilu PDI Surabaya itu.

Permainan. Sebuah sandiwara “telah didzalimi” untuk menarik simpati massa mungkin dimainkan Armuji.

Pencitraan dengan menempatkan atau menjadikan keadaan sendiri seolah teraniaya adalah jalan pintas merebut simpati massa. Masyarakat lebih cenderung terkesan pada sosok teraniaya daripada super hero. Apakah pencitraan nelangsa itu menjadi senjata efektif merebut hati wong Suroboyo? Belum tentu. Belum ada riwayat atau tradisi yang membuktikan pilwakot Surabaya dimenangkan oleh sosok yang didzalimi.

Bila dipandang dari sudut lain, pencitraan ini – boleh jadi – adalah usaha kontradiktif dengan yang dilakukan cawali Mahfud Arifin. Purnawirawan Polri ini lebih cenderung menggunakan pendekatan massif sebagai pahlawan. Akan ada pembahasan tentang calon walikota yang diusung 8 partai politik. Harap sabar menunggu.

Sebagai seorang kader tulen banteng sebenarnya cukup ganjil jika Armuji “hanya” menjadi orang nomor dua. Walau pun layak namun timses Armuji akan kesulitan dengan pertanyaan : prestasi Armuji selama berkarir politik.

Menjadi ketua dewan kota Surabaya pun belum cukup menjadi siasat yang dapat diandalkan. Hal itu tercermin dari perjalanan politik Armuji. Menurut Wikipedia :
Ketua DPRD Surabaya (2003-2004)
Anggota DPRD Surabaya (2004-sekarang)
Wakil Ketua DPRD Surabaya (2014)
Ketua DPRD Surabaya (2014-2019)

Ada 3 periode pemilihan legislatif tapi Armuji belum sekali pun menjajal kesaktiannya di tingkat provinsi maupun nasional. Maka sudah sewajarnya bila sebagian warga pemilih bertanya : mampukah Armuji menjadikan Surabaya lebih baik dari sekarang?

Sungguh berat pekerjaan yang diemban oleh warga Banteng Surabaya bila rekomendasi dikirimkan untuk Armuji. Pada titik ini, satu-satunya sikap sempurna yang dapat dilakukan kader-kader Banteng adalah mendengar dan taati. Kalah menang, itu urusan lain. Suara senada telah dikumandangkan oleh Ketua DPC Surabaya bahwa pihaknya akan tegak lurus pada keputusan partai.

Keputusan akhir berada di tangan pemilih.

Gunakan hak suara dengan memilih secara cerdas.

Salam seduluran sak lawase.

Related posts

Leave a Comment