Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya

“Tidak, Ki Gede,” jawab Sekar Mirah seraya berpaling pada suaminya.

Agung Sedayu meneruskan ucapan istrinya, ”Ki Garu Wesi akan membuat kekacauan di wilayah ini karena ia menginginkan kitab peninggalan guru.”

“Lalu mengapa mereka membuat perkemahan seolah akan mengobarkan perang di wilayah ini?” tanya Ki Gede pelan.

“Saya belum dapat mengetahui rencana mereka secara pasti,” jawab Agung Sedayu. Kemudian dengan raut muka sedikit bimbang, ia berkata, ”Sementara permasalahan ini sebenarnya adalah masalah perguruan Orang Bercambuk, dan khususnya mengenai diriku sebagai murid pertama Kiai Gringsing.”

“Lalu apakah kau berpikir untuk tidak melibatkan Mataram? Maksudku, kau tidak membawa pasukan khusus untuk mengusir mereka?” bertanya Ki Gede.

“Itulah permasalahannya, Ki Gede,” Agung Sedayu menarik nafas panjang. Ia merasa tidak semestinya melibatkan orang-orang Tanah Perdikan Menoreh untuk masalah yang ditimbulkan Ki Garu Wesi. Dan ia pun sebenarnya berpikir untuk tidak melibatkan Mataram dalam hal tersebut.

Seolah mengerti apa yang dipikirkan oleh Agung Sedayu, Ki Gede kemudian berkata, ”Tidak semestinya kau merasa ragu, Agung Sedayu. Kau telah cukup lama tinggal di Tanah Perdikan. Kau mengenal setiap orang di wilayah ini, kau juga mengetahui setiap jengkal keadaan tanah dan sungai di wilayah ini. Jadi maksudku adalah kau dapat mengerahkan kekuatan yang tersimpan di Tanah Perdikan Menoreh untuk menyelesaikan masalahmu. Orang-orang akan merasa senang dapat membantumu seperti kau telah membantu mereka selama ini.”

Ki Gede berhenti sejenak mengatur napasnya. Lalu ia meneruskan kemudian, ”Dan kau juga tidak perlu merasa telah melangkahi wewenang Mataram. Bagaimanapun kau adalah pemimpin pasukan khusus yang dapat mengambil tindakan penting jika keadaan menjadi berbahaya. Menurutku kehadiran orang-orang Ki Garu Wesi akan menjadi sebuah bahaya di kemudian hari.”

“Ki Gede berkata benar, Kakang,” kata Sekar Mirah.

Agung Sedayu merenungkan kata-kata Ki Gede Menoreh. Setelah cukup lama ia berdiam diri, ia berkata lirih, ”Aku telah pergi sekali ke tempat mereka berkemah. Dan aku kabarkan keadaan di perkemahan itu pada banyak orang. Lalu mereka percaya pada keteranganku. Tentu saja kepercayaan orang-orang Tanah Perdikan dan para perwira pasukan khusus akan sia-sia apabila yang terjadi kemudian adalah bahaya melanda wilayah ini.”

Dengan sorot mata sungguh-sungguh, Agung Sedayu berkata, ”Untuk mencegah api yang akan menyala kapan saja, Tanah Perdikan harus mulai mengadakan persiapan.”

Sekar Mirah menanggapinya dengan tangan terkepal. Meskipun ia seorang wanita yang berusia hampir paruh baya, Sekar Mirah mempunyai semangat tinggi apabila ia mengetahui keselamatan orang-orang disekitarnya berada dalam bahaya. Ia akan berjuang melindungi mereka seperti seekor singa.

“Kau dapat kumpulkan para pemimpin pengawal kapan saja kau inginkan,”berkata Ki Gede Menoreh yang juga merasakan gelora mulai membara di dalam dadanya. Meskipun ia menyadari bahwa usianya tak lagi muda, tetapi kemauannya untuk tetap berada di barisan depan saat menghadapi bahaya masih tetap berkobar.

Ki Garu Wesi memasuki malam dengan hati gelisah. Karena ia akhirnya menyadari kesalahan dengan mengumbar keinginannya di hadapan Agung Sedayu. Bahkan ia merasa khawatir jika Agung Sedayu dan pasukan khusus Mataram secara tiba-tiba datang menyerang perkemahannya. Meskipun ia telah memerintahkan para pengikutnya untuk meningkatkan kewaspadaan, tetapi kelebihan ilmu Agung Sedayu dan pasukan khusus Mataram tetap memberinya bayangan buruk. Kegelisahan ini diketahui oleh Ki Hariman saat ia melintas di dekat kemah Ki Garu Wesi.

Related posts

Leave a Comment