Agung Sedayu Terperdaya 7

Nasional

Pada siang itu, Agung Sedayu tidak segera pulang ke rumahnya. Ia meluangkan waktu untuk singgah di rumah pemimpin Menoreh. Ki Gede Menoreh tengah berada di dalam pendapa bersama para bebahu ketika Agung Sedayu mengarah ke jalan yang membawanya ke kediaman ayah Pandan Wangi itu. Agaknya mereka sedang membahas persoalan mengenai tanggul kecil yang rusak karena tanah disekitarnya longsor. Raut muka mereka terlihat sungguh-sungguh setiap kali bertemu dan berbicara tentang kesejahteraan rakyat Tanah Perdikan.

Ki Argapati mendongakkan wajah dan melihat ke arah regol halaman ketika ia mendengar derap kaki kuda mendekati kediamannya. Senyum lebar menghias wajah Ki Gede saat melihat sosok Agung Sedayu memasuki halaman rumahnya.

“Tidak biasanya kau singgah kemari saat siang hari, Ngger,” kata Ki Gede Menoreh setelah Agung Sedayu duduk bergabung bersama bebahu yang lain.

Agung Sedayu mengangguk kemudian katanya, ”Rumah saya terletak di sebelah rumah Ki Gede. Sekar Mirah segera menyusul kemari dan kita semua akan makan siang bersama disini.”

“Tetapi istri Ki Rangga telah berada di belakang dan tampaknya sudah siap membawa hidangan kemari,” sahut seorang bebahu, ”rasanya Ki Gede memang tidak pernah lagi berada di rumah sendirian. Setelah aku lihat tadi Sukra keluar dari rumah, kemudian Prastawa, lalu angger Sekar Mirah dan sekarang Ki Rangga bergantian selalu menemani Ki Gede.”

Mereka yang mendengarnya pun tersenyum melihat keguyuban anak-anak muda di lingkungan mereka. Sekumpulan anak muda yang tiada henti dan lelah memperhatikan keadaan Ki Gede yang telah dianggap sebagai orang tua mereka sendiri.

Sementara itu, di Tanah Perdikan Menoreh, kehidupan memang terasa lebih tenang dan setiap orang merasa bahagia menjalani hari. Semakin hari semakin jarang terdengar kejahatan dan pertengkaran yang biasanya disebabkan oleh pembagian air yang dirasakan tidak merata. Setiap orang Tanah Perdikan mengisi hari dengan pekerjaan yang baik-baik dan penuh semangat. Mereka ingin mengejar bagian-bagian yang mereka anggap tertinggal dari daerah sekitar mereka.

Pembicaran terus berlanjut seusai Sekar Mirah dan dua wanita lainnya membereskan peralatan makan. Hingga kemudian satu per satu bebahu minta diri untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda pada hari itu.

Kemudian, ”Sekarang aku mulai berbagi tanggung jawab dengan setiap pemimpin kelompok. Meskipun keputusan akhir ada padaku, tetapi keberadaan mereka dan kalian semua benar-benar meringankan beban yang selama ini aku emban,” kata Ki Gede Menoreh.

Agung Sedayu mengangguk, kemudian Sekar Mirah duduk di sebelahnya.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam, ia memandang lekat wajah Agung Sedayu seperti menyimpan pertanyaan penting. Lalu, ”Para bebahu melaporkan padaku tentang perkemahan orang-orang asing di batas luar Tanah Perdikan. Apakah Angger telah mengetahuinya?”

Agung Sedayu kembali mengangguk. Katanya, ”Saya berniat mengatakan itu pada Ki Gede siang ini. Jadi, saya akan sampaikan segala sesuatu yang mempunyai hubungan dengan perkemahan itu.”

“Silahkan, Ngger,” kata Ki Gede.

Ki Rangga Agung Sedayu kemudian menceriterakan yang didapatnya dari perkemahan orang-orang asing itu. Ia juga memaparkan rencana yang sebelumnya telah dibicarakan dengan sebagian senapatinya. Ki Gede Menoreh sedikit terperanjat namun ia mengakui ketajaman nalar Agung Sedayu yang mirip dengan kakaknya yaitu Ki Tumenggung Untara, panglima prajurit Mataram di bagian selatan lereng Merapi.

“Apakah Ki Garu Wesi akan memusatkan pergolakan di Tanah Perdikan sebelum ia mencapai Mataram?” bertanya Ki Gede.

Related posts

Leave a Comment