Agung Sedayu Terperdaya 6

Nasional

Pagi-pagi sekali Agung Sedayu telah berada di bilik khususnya di barak pasukan khusus. Telah hadir tiga orang lurah prajurit yang siap memberi laporan padanya. Ki Rangga Agung Sedayu mengangguk-angguk mendengar laporan tiga lurah prajurit termasuk seorang lurah khusus yang bertugas membawahi petugas sandi.

Pemimpin prajurit sandi itu berkata,” Mereka telah berada di tempat itu sekitar tiga hari yang lalu. Aku akan melaporkan tentang itu akan tetapi Ki Rangga tidak berada di barak. Dan aku telah menghitung jika dari segi keseimbangan kekuatan perang, jumlah orang dan dukungan persediaan agaknya orang-orang itu tidak bersiap untuk waktu yang lama. Jadi kemungkinan yang terjadi adalah mereka akan menjarah tempat-tempat persediaan makanan milik orang Menoreh. Untuk itu kita harus membicarakan jalan keluarnya bersama Ki Gede Menoreh.”

“Serahkan itu padaku. Siang ini aku akan berbicara dengan Ki Gede,” sahut Agung Sedayu.

Ki Lurah Sanggabaya kemudian berkata,”Mereka akan menyerang dari satu arah. Agaknya mereka tidak memperhitungkan letak barak ini yang sebenarnya dapat memotong pergerakan mereka menuju pedukuhan induk.”

Agung Sedayu beringsut setapak, katanya,” Kita tidak dapat berpikiran seperti itu, Ki Lurah. Mungkin saja mereka telah mempunyai siasat khusus untuk memecah kekuatan yang tersimpan di Menoreh. Untuk mencegah adanya gerakan yang tidak terduga oleh kita, aku memintamu untuk membentuk kelompok-kelompok kecil yang tersebar di tempat-tempat yang dapat kau capai dalam waktu singkat. Mereka akan dapat mengganggu arus serangan Ki Garu Wesi dari beberapa jurusan, dan mereka juga dapat membantu para pengawal Tanah Perdikan yang mungkin terdesak dan menuju tempat yang kita jadikan sebagai gardu pengamatan.”

“Tetapi, Ki Rangga,“ berkata Ki Lurah Sanggabaya,”Memecah pasukan menjadi sejumlah kelompok kecil mungkin juga tidak akan dapat membuat pertahanan kita semakin kokoh. Mereka tentu sudah mempersiapkan pasukan untuk secara langsung memukul pedukuhan induk.”

Ki Rangga Agung Sedayu menatap lurus Ki Lurah Sanggabaya. Lantas ia berpaling pada perwira yang duduk di sudut ruangan, katanya,”Bagaimana kesiapan pasukan kita?”

“Secara umum pasukan kita dalam keadaan tenang dan akan bersiap secepat perintah Ki Rangga. Dan menurutku, untuk sementara ini kita tidak melakukan kegiatan di luar barak. Selain supaya keadaan tetap tenang, kita dapat menggunakan itu untuk memancing pergerakan lawan,” jawab Ki Lurah Wilayudha.

“Baiklah, aku dapat menerima setiap pendapat semua orang yang hadir di ruangan ini. Selanjutnya aku akan meminta Prastawa untuk melakukan benteng pendam di sejumlah tempat yang baru aku katakan padanya jika kalian menyetujui rencanaku,” kata Agung Sedayu. Kemudian ia membeberkan siasat yang akan ditempuhnya untuk menutup setiap ruang gerak pasukan Ki Garu Wesi.

Demikianlah kemudian Agung Sedayu berkata,”Aku ingin jika memang pertempuran itu harus terjadi, maka yang terjadi adalah pertempuran yang tertutup. Rencana ini membutuhkan segala kelebihan yang kita miliki.”

Para perwira yang mengikuti pertemuan di bilik khusus kemudian mengangguk-angguk. Mereka tidak menyatakan keberatan dengan siasat yang akan digelar pemimpin mereka. Bahkan diam-diam mereka mengakui apabila siasat itu akan dapat mengurangi jumlah korban yang mungkin saja berasal dari rakyat Tanah Perdikan Menoreh.

Maka selanjutnya para perwira pasukan khusus secara mendadak mengadakan latihan-latihan yang dimaksudkan agar dapat mendukung rencana Ki Rangga Agung Sedayu. Para prajurit pun terperanjat dengan keadaan yang dijelaskan terlebih dulu oleh Ki Lurah Sanggabaya. Mereka tidak mengira apabila gelar perang yang mereka kenal selama ini ternyata mempunyai watak yang berlawanan. Sungguh pun mereka mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri, namun mereka telah terbiasa untuk bekerja keras dan selalu berusaha melakukan setiap usaha dengan kemampuan yang terbaik. Hingga akhirnya dalam waktu satu atau dua hari, pasukan khusus di Tanah Menoreh mulai dapat menyesuaikan diri.

Related posts

Leave a Comment