Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya

Ki Gede memandang Agung Sedayu dari kejauhan lalu berkata pada dirinya sendiri, ”Tidak banyak yang dapat aku perbuat untukmu, Ngger. Pertarungan yang terjadi di antara mereka telah berada di luar kemampuanku. Selain itu, lawan Ki Jayaraga memang orang yang tidak mempunyai jantung.”

Sebenarnya yang terjadi di rumah Agung Sedayu adalah kehancuran yang luar biasa akibat dua kekuatan raksasa yang berbenturan.  Udara panas yang keluar dari dalam tanah, menerobos setiap lubang-lubang kecil pada permukaan tanah lalu menyambar Ki Jayaraga. Saat itu Ki Jayaraga bersiap dengan ilmu Panjer Bumi telah membentengi tubuhnya dengan lambaran tenaga cadangan yang tak kalah besarnya. Maka kemudian yang terjadi adalah kilatan-kilatan api yang menjilati udara di seluruh bagian rumah Agung Sedayu. Lalu tanah di sekitarnya menjadi bergetar hebat hingga mampu merobohkan tiang-tiang penyanggah rumah Agung Sedayu yang kokoh dan besar. Beberapa dinding menjadi terbakar dan udara semakin panas memanggang. Ki Gede Menoreh melangkah surut beberapa langkah saat angin panas menghantam bagian dadanya. Meskipun ia lincah mengelak, namun benturan tipis tidak dapat dihindarkan. Ia mengangkat tombak pendeknya dan menangkis sambaran angin panas yang menerjangnya. Namun angin panas itu berasal dari dua kekuatan yang masih saling melibat dan itu berarti Ki Gede Menoreh secara tiba-tiba telah menerima  luapan tenaga cadangan dua kali lebih besar dari kekuatannya sendiri.

Hampir saja Ki Gede terjatuh namun dua pengawal yang berdiri didekatnya cepat menahan tubuhnya. Dibantu dua orang pengawal, Ki Gede kemudian bergeser sedikit lebih jauh.

Kedatangan Agung Sedayu diketahui oleh Ki Garu Wesi tetapi ia belum dapat melepaskan diri dari tekanan Ki Jayaraga yang mengerahkan seluruh kekuatannya. Tanpa ada kata-kata yang diucapkan, Agung Sedayu telah memusatkan tatap matanya tepat pada Ki Garu Wesi.

“Aku harus minta maaf padamu, Ngger,“ berkata Ki Jayaraga ketika ia melihat Agung Sedayu berdiri mematung di dekatnya.

“Ki Jayaraga tidak bersalah,” kata Agung Sedayu tanpa mengendurkan kekuatannya yang merambat dan berpusat pada tatap matanya.

Dalam waktu itu, Ki Garu Wesi dapat membaca perkembangan yang terjadi di Tanah Perdikan Menoreh. Ia meyakini apabila Ki Tunggul Pitu telah berhasil melepaskan diri dari apapun yang dapat mengikat dirinya dalam satu perkelahian. Dan kehadiran Agung Sedayu di rumahnya telah memberi satu petunjuk yang pasti bahwa kekuatan para pengawal dan rakyat Menoreh memang sulit ditundukkan. Bagi Ki Garu Wesi, kemenangan atau kekalahan yang dialami oleh pengikutnya bukanlah akhir dari usahanya. Justru ia merasa berhasil karena telah tujuannya untuk mengalihkan perhatian Agung Sedayu telah tercapai. Meskipun Agung Sedayu telah berada di hadapannya, Ki Garu Wesi belum merasa perlu untuk membuat satu kejutan.

Agung Sedayu mulai menghentak kekuatannya melalui sorot mata yang dapat meremukkan isi dada seseorang. Ki Garu Wesi menyadari bahaya yang mengintai melalui sorot mata Agung Sedayu kemudian mengibaskan lengannya. Selarik cahaya keluar dari telapak tangannya menyambar mata senapati pasukan khusus Mataram dengan kecepatan yang luar biasa.

Benturan dua kekuatan raksasa pun kembali terjadi. Puing-puing reruntuhan bangunan pun bergetar dan sebagian terlempar ke segala penjuru.

Ki Jayaraga melompat surut. Ia terperanjat dengan sikap Agung Sedayu yang tiba-tiba memutuskan untuk mempengaruhi perkelahiannya dengan  Ki Tunggul Pitu.

“Agung Sedayu!” seru Ki Gede. Bahkan Ki Jayaraga pun turut berusaha menghentikan gerak Agung Sedayu yang akan menggebrak Ki Tunggul Pitu dengan kekuatan penuh.

Namun ketika mendengar seruan dari dua orang yang ia hormati, Agung Sedayu perlahan-lahan dapat menguasai dirinya kembali. Ia pun berdiri tegak mematung menatap lurus Ki Tunggul Pitu. Dalam pada itu, Agung Sedayu telah memasang tekad untuk tidak membiarkan Ki Garu Wesi pergi begitu saja seperti Ki Tunggul Pitu.

Sekejap waktu yang terjadi kala itu dimanfaatkan oleh Ki Garu Wesi dengan mengerahkan kekuatan yang berasal dari ilmu Cakra Abang. Maka yang terjadi kemudian adalah udara sekitarnya menjadi sangat panas dan kibasan tangannya telah membuat angin puting beliung yang mampu mengangkat seluruh benda-benda reruntuhan. Lantas dengan satu hentakan kuat, benda-benda itu terdorong maju beserta udara yang dapat membakar kulit menghantam setiap orang yang berada di depan Ki Garu Wesi.

Related posts

Leave a Comment