Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya

Agung Sedayu masih belum dapat menduga maksud Ki Tunggul Pitu. Namun kemudian ia melambai memanggil seorang pengawal. Agung Sedayu membisikkan satu dua patah kata yang diiringi anggukkan kepala pengawal. Sejenak kemudian, pengawal itu meninggalkan Agung Sedayu dan berlari kecil keluar dari kerumunan banyak orang.

“Guru!” terdengar Pager Waja berteriak memanggil Ki Tunggul Pitu. Pada saat itu, Pager Waja terduduk lemas di hadapan Sukra yang tampak berusaha tegar berdiri.

“Apakah kau akan meninggalkanku dengan sekumpulan orang-orang bodoh ini?” Pager Waja nyaris tidak percaya ketika ia mendengar kata-kata Ki Tunggul Pitu.

“Apa lagi yang dapat aku lakukan untukmu, murid sial?” sahut Ki Tunggul Pitu.

“Tetapi aku adalah muridmu satu-satunya,” kata Pager Waja yang berusaha untuk berdiri.

“Dan kau ternyata sama-sama bodohnya dengan orang-orang Ki Garu Wesi,” Ki Tunggul Pitu seperti benar-benar tidak peduli nasib Pager Waja.

“Pengkhianat!” Pager Waja membentak keras dan ia mencoba meloncat panjang menerkam Ki Tunggul Pitu. Tetapi perkelahiannya dengan Sukra ternyata telah menguras habis seluruh kekuatannya. Maka kemudian ia jatuh terguling.

Pager Waja yang tengkurap lemah menyambar wajah gurunya dengan sorot mata berkilat. “Benar yang dikatakan oleh mereka,” desis Pager Waja, ”bahwa kau seorang pengecut!”

Ki Tunggul Pitu tertawa keras. Kemudian ia berkata, ”Lihatlah dirimu, murid sial! Bertahun-tahun kau menyerap ilmu dariku tetapi kau tidak dapat mengalahkan seorang petani bodoh.” Ia menarik nafas panjang, lalu katanya lagi, ”Pager Waja! Aku akan tinggalkan dirimu bersama pengikut Ki Garu Wesi. Aku berharap kau dapat mengenali kelemahan yang ada dalam dirimu bersama petani bodoh yang menjadi lawanmu. Namun apabila Ki Gede menghendaki keputusan yang berbeda dengan harapanku, aku harap kau dapat mengingat pelajaran penting pada hari ini. Kemudian kau akan belajar tentang kebaikan sifat pengecut.”

“Diam!” Sukra membentak Ki Tunggul Pitu. Lalu, ”Kau adalah orang tua licik dan culas yang bernasib baik karena tidak melawanku sejak semula.” Sukra dengan cerdik berusaha memancing kemarahan Ki Tunggul Pitu. Ia menyadari bahwa ilmunya beum seujung kuku hitam Ki Tunggul Pitu, tetapi Sukra berharap dapat menarik kendali Ki Tunggul Pitu sehingga Agung Sedayu akan lebih mudah mengalahkan guru Pager Waja.

Tetapi Ki Tunggul Pitu agaknya mengerti permainan Sukra. Tanpa menoleh pada pengawal Menoreh yang kekuatannya mengejutkan itu, ia berkata, ”Sudahlah, kau belum pantas untuk memulai perang tanding denganku.”

Ki Tunggul Pitu memandang sekelilingnya. “Kita akan berjumpa lagi, Agung Sedayu,” lantang Ki Tunggul Pitu berkata. Lalu ia mendorongkan kedua tangannya yang terkembang ke arah Agung Sedayu. Tiba-tiba dari kedua telapak tangannya keluar angin  kencang menerjang tubuh Agung Sedayu. Dorongan tenaga inti itu dirasakan oleh Agung Sedayu seperti sebongkah batu sebesar kerbau, ia terdorong surut beberapa langkah namun ia masih dapat menahan tubuhnya agar tidak roboh terjengkang.

Debu-debu mengepul tebal menganggu pandangan mata banyak orang. Dan ketika debu telah menjadi tipis dan deru tenaga inti Ki Tunggul Pitu telah sirna, maka sosok Ki Tunggul Pitu telah lenyap dari tempatnya berdiri.

Agung Sedayu sebenarnya mengetahui Ki Tunggul Pitu berkelebat pergi, namun ia menahan diri karena sebuah pertimbangan yang telah ia putuskan. Maka kemudian ia hanya memandang arah kepergian Ki Tunggul Pitu, sementara orang-orang Menoreh hanya menatapnya dengan mata yang menyimpan keheranan.

Sementara itu sepasang mata yang tajam mengamati Sukra pun beringsut mundur dan ia memutuskan untuk bermalam di Tanah Perdikan. Tetapi langkah kakinya kemudian berhenti saat ia mendengar lirih pelan isak tangis seorang wanita.

“Apa yang terjadi pada Ki Rangga?” tanya seorang yang memegang kain basah.

“Aku tidak tahu,” jawab orang disebelahnya.

Prastawa yang mendengar mereka kemudian berkata,” Ki Rangga tentu mempunyai pemikiran lain sehingga ia membiarkan lawannya melarikan diri. Tetapi, kita akan disibukkan dengan para tawanan ini. Marilah, Ki Sanak berdua membantu para pengawal untuk mengurusi orang-orang ini di rumah Ki Gede.”

Related posts

Leave a Comment