Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya

“Aku telah mendengar sepak terjangmu, Ki Rangga. Kau sama sekali tidak mempunyai belas kasihan pada lawan-lawanmu. Kau dengan sekehendakmu sendiri memisahkan orang dari apa yang ia cintai dan ia miliki,” kata lelaki yang masih belum memperkenalkan dirinya.

Agung Sedayu tertawa pelan. Lalu katanya, ”Ki Sanak, saya baru sadar jika Anda mungkin termasuk orang yang bertabiat aneh. Anda,  tanpa diundang tiba-tiba memasuki halaman lalu menyerang kami dengan suara buruk didengar sebelum kami tahu nama atau julukanmu.”

Wajah lelaki itu memerah seperti udang rebus. Ia mengangkat tangannya, ”Orang biasa memanggilku sebagai Ki Garu Wesi. Dan seperti biasa apabila orang telah mendengar julukanku dari mulutku sendiri, maka orang itu akan mati tidak berapa lagi. Termasuk engkau, Agung Sedayu. Dan mungkin beberapa orang yang hidup bersamamu di Tanah Menoreh akan menyesal mempunyai tetangga sepertimu. Ketahuilah, aku telah menempatkan beberapa orang di luar bagian lingkungan ini. Kau dapat memerintahkan beberapa prajuritmu untuk membuktikan kebenaran ucapanku.”

Ki Garu Wesi menatap tajam wajah Agung Sedayu dan keduanya kini terlibat dalam suasana tegang. Ki Garu Wesi telah mendengar kekuatan ilmu yang terpancar dari sorot mata Agung Sedayu. Ia juga menerima berita kehebatan Sekar Mirah dengan tombak pendek yang mirip dengan milik Macan Kepatihan. Namun agaknya ia telah membuat perhitungan yang cukup kala beradu pandang dengan Agung Sedayu.

“Baiklah,” kata Ki Garu Wesi kemudian, ”aku minta kau bersiap. Dan jika kau merasa perlu bantuan pasukan khusus Mataram, maka kau boleh menurunkan mereka dalam waktu yang tidak lama lagi. Sampai jumpa!”

Agung Sedayu dan Sekar Mirah masih berdiri memandang punggung Ki Garu Wesi yang berkelebat cepat, lalu menghilang di balik pepohonan yang tumbuh di pekarangan tetangga.

“Aku akan bicara dengan Ki Gede, sementara kau perintahkan Sukra untuk memanggil Prastawa. Aku tunggu kalian bertiga di rumah Ki Gede,” kata Agung Sedayu.

“Dan Ki Jayaraga?” bertanya Sekar Mirah kemudian.

Agung Sedayu diam sejenak, lalu katanya, ”Biarkan ia bercengkrama lebih lama di sawah. Siang ini jika ia tidak mendapati seorang pun di rumah, tentu ia akan menuju rumah Ki Gede.”

Sekar Mirah menganggukkan kepala dan melangkah menuju tempat Sukra biasa membelah kayu bakar untuk menyampaikan pesan Agung Sedayu. Sementara itu Agung Sedayu bergegas pergi menjumpai Ki Gede Menoreh. Dalam perjalanannya ke rumah Ki Gede Menoreh, Agung Sedayu mempunyai semacam perasaan gamang dalam hatinya. Ia merasa jika Tanah Perdikan Menoreh sudah terlalu lama menanggung setiap balas dendam dari orang-orang yang pernah ia kalahkan dalam perang tanding. Meski begitu ia masih mencoba untuk berprasangka baik apabila nantinya Ki Garu Wesi hanya melakukan gertakan dan ia datang seorang diri saja.

Beberapa saat kemudian Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Prastawa telah berada di rumah Ki gede Menoreh. Setelah Ki Gede mengawali dengan pembicaran ringan, kemudian ia berkata, ”Tentu bukan kebetulan apabila Agung Sedayu dapat duduk bersama Prastawa.”

Agung Sedayu dan Prastawa tertawa kecil namun kemudian mereka menampakkan wajah sungguh-sungguh. Kata Agung Sedayu, ”Seseorang bernama Ki Garu Wesi telah mendatangi rumah saya, Ki Gede.” Lalu Agung Sedayu menceritakan keperluan Ki Garu Wesi dan tanggapan yang ia berikan pada tamunya itu.

“Aku merasa memang ada sesuatu yang mendesak meskipun aku belum mendapat laporan dari para pengawal. Bagaimana denganmu, Prastawa?” bertanya Ki Gede.

Related posts

Leave a Comment