Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya

“Kau telah putus asa, petani sial,” berkata Pager Waja dengan nada menghina. Kemudian, ” Kau belum mengenal nama Pager Waja dan kau pasti mengalami kesusahan pada hari ini meski kau telah mengemis pertolongan pada kawan-kawanmu. Aku pastikan sekali lagi kau akan menyesal karena memilih Tanah Perdikan sebagai tempat tinggalmu.”
Dalam waktu itu, pengawal Tanah Perdikan telah kembali dan mengulurkan sepasang bambu berukuran pendek. Pager Waja mengerutkan keningnya melihat Sukra kini bersenjatakan dua bilah bambu yang berukuran tidak terlalu besar, mungkin seukuran keris. Kemudian ia berteriak, ”Kau akan melawanku dengan bambu? Lihatlah dirimu, petani sial! Kau bahkan tidak mampu menggores kulitku dengan belati dapur itu.”
“Diamlah, Pager Kayu!” sahut Sukra, ”kau perhatikan baik-baik apa yang akan aku lakukan dengan bambu ini padamu.”
Sukra bergerak lincah. Dua bambu yang tergenggam erat olehnya mematuk dan menyambar Pager Waja dari segala arah. Ia tidak mempunyai keraguan kala merasa harus menetak pedang Pager Waja. Pager Waja mengumpat tiada henti kala Sukra mulai dapat mencari keseimbangan. Setiap kali Pager Waja berusaha menekan Sukra, maka yang terjadi adalah Sukra selalu mampu berkelit darinya. Bahkan tak jarang bambu yang menjadi senjata Sukra dapat memukulnya apabila ia tidak mempunyai kecepatan yang sama dengan Sukra. Maka semenjak Sukra bersenjatakan dua bilah bambu, perkelahian itu menjadi sulit diperkirakan.
Kedua anak muda yang mempunyai jalur yang berbeda dalam mengembangkan olah kanuragan itu benar-benar terlibat sangat dalam dan menggetarkan. Keduanya saling membelit dan menerkam, sementara senjata mereka saling menyambar dan menebas. Namun dalam pada itu, nyatalah bagi Pager Waja bahwa Sukra sebenarnya mempunyai kekuatan yang terpendam tanpa disadari oleh Sukra sendiri.

Sukra yang sering melihat Sekar Mirah berlatih tenaga cadangan sebenarnya diam-diam menirukan setiap gerakan Sekar Mirah yang terpahat dalam jantungnya meski hanya sekilas melihatnya. Pada perkelahian itu, Sukra yang beberapa kali meloncat surut agaknya berusaha keras mengingat gerakan-gerakan Sekar Mirah. Selain itu, ia juga mendapat tempaan dari Ki Jayaraga tentang tata cara mengatur pernapasan.

Maka yang terjadi kemudian adalah Sukra telah menyalurkan tenaga cadangan yang merambati setiap bagian senjatanya. Oleh karena itu Pager Waja merasa bahwa angin tidak lagi berpihak padanya. Ia menyaksikan sendiri kedua bambu di tangan Sukra tidak mengalami kerusakan yang cukup berarti sekalipun berulangkali berbenturan dengan kedua sisi tajam senjatanya. Pager Waja yang tidak ingin menerima kekalahan dari lawan yang dianggapnya sebagai anak ingusan pun membenahi tata geraknya.

Pada saat itu di lingkaran lain, Agung Sedayu hanya sekali-kali mengamati perkelahian Sukra, ia tidak dapat terlalu lama melepaskan perhatian pada Ki Tunggul Pitu yang sangat tangguh dan ulet. Agung Sedayu menganggukkan kepalanya kemudian katanya dalam hati, ”Aku tidak pernah mengetahui sejak kapan anak itu melatih kedua tangannya untuk memegang senjata. Lagipula aku dan Sekar Mirah belum berjalan jauh bersamanya mengenai tenaga cadangan. Tetapi ia memang tidak mengecewakan orang-orang Menoreh.”

Sementara itu sepasang mata yang membaur dengan orang-orang lainnya pun berulang kali mengangguk. Sekali-kali ia mengamati pertarungan Agung Sedayu, namun agaknya ia lebih banyak memperhatikan Sukra yang belum menunjukkan kemunduran.

“Petani sial! Kau belajar darimana cara berkelahi semacam ini? Agaknya kau merambah semua jalur yang sebenarnya tidak mempunyai hubungan,” geram Pager Waja bertanya.

“Diamlah!” sahut Sukra. “Aku katakan padamu bahwa aku mempunyai jalur perguruan yang khusus dan satu-satunya yang ada di Mataram.”

“Dasar petani sial!” Ia menusukkan pedang pada lambung Sukra, tetapi Sukra dengan sigap melangkah surut dan tiba-tiba membuat loncatan pendek ke samping lalu menyambar Pager Waja dengan sabetan yang sangat deras. Bilah bambu itu secepat kilat menghantam kepala Pager Waja, tetapi ia bukanlah anak muda yang baru belajar kanuragan sepekan yang lalu. Ia telah bersiap saat dilihatnya Sukra meloncat ke samping. Maka ia dengan tangkas memapas serangan Sukra dengan menghantamkan bagian tajam pedangnya dengan kekuatan sepenuhnya.

Benturan itu demikian kerasnya hingga keduanya merasakan kesemutan hingga pangkal lengan. Namun begitu, Pager Waja dengan cepat menyerang Sukra dengan pedangnya yang telah beralih ke tangan kiri. Tetapi Sukra ternyata lebih memilih untuk menghindar. Ia meloncat surut, kadang-kadang berlari menjauh. Dan ketika dirasakan olehnya rasa kesemutan itu menghilang, Sukra menerjang lawannya dengan garang.

Related posts

Leave a Comment