Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya

Pager Waja yang melihat sikap Sukra pun dapat menyadari bahwa Sukra agaknya benar-benar telah bersiap dalam keadaan yang sebenarnya tidak memberinya keuntungan. Dalam pada itu. Sukra telah beralih cara bertempurnya. Gerakan Sukra kali ini lebih mantap, ia tidak lagi banyak menghindari serangan Pager Waja. Yang terjadi kemudian adalah Sukra mampu mengimbangi tata gerak Pager Waja yang awalnya telah membawa kebingungan terhadap dirinya. Sukra dalam waktu yang pendek telah membuat penilaian dan mampu melihat celah kelemahan yang ada dalam tata gerak lawannya. Dengan begitu, Sukra lebih percaya diri untuk membenturkan kekuatannya secara langsung.

Sukra pun kemudian mendapat kesempatan untuk meraih senjatanya berupa belati yang mempunyai panjang seukuran lengan mulai memberi perlawanan keras. Dada Pager Waja berdegup keras karena tata gerak Sukra ternyata dapat mengimbanginya meskipun goresan-goresan senjata telah menyentuh tubuh Sukra sebelumnya, namun agaknya luka-luka yang mengalirkan darah itu sama sekali tidak mengurangi sepak terjang Sukra.

“Anak petani! Bukankah memang lebih baik kau keroyok aku dengan bantun dari teman-temanmu?” Pager Waja memancing kemarahan Sukra.

Namun Sukra bergeming, justru ia menyahut, ”Kau dapat buktikan padaku tentang namamu. Apakah benar kulitmu akan menjadi sekeras baja?”

“Petani sial!” bentak Pager Waja. “Anak muda Menoreh memang terlalu sombong. Ibumu akan menyesali kematianmu dengan terburainya isi perutmu dan kau sunguh-sungguh akan mengutuk dirimu sendiri karena sikapmu terhadapku. Pager Waja!”

“Marilah kita lihat,” sahut Sukra kemudian. ”Apakah kau memang terlalu pandai bicara atau kau memang pantas membuat onar di Tanah Perdikan.”

Maka sejenak kemudian mereka bertempur dengan sengitnya. Tubuh mereka berloncatan sangat lincah dan sama-sama cekatan menghindari setiap serangan yang datang. Salah seorang dari mereka sekali-kali tampak terlihat seperti burung rajawali yang turun menukik tajam menyambar mangsa dengan garang. Pager Waja yang sebelumnya memandang rendah kemampuan Sukra menjadi geram dan marah, meskipun kadang-kadang ia mengagumi kehebatan Sukra. Betapa Sukra mampu menahan arus serangannya yang tidak berhenti mengalir dan sesekali Sukra membuatnya semakin berhati-hati karena Sukra mampu menerobos setiap bagian pertahanannya yang lemah.

Bercak darah yang bercampur terlihat berkilat-kilat tertimpa sinar matahari. Perkelahian itu semakin seru dan semakin membahayakan kedua anak muda itu. Lingkaran perkelahian kemudian menjadi semakin luas, sementara di tempat lain para pengawal Tanah Perdikan pun tampak mulai mengurangi kegiatannya ketika kerusuhan mulai berada dalam kendali Ki Gede Menoreh dan Prastawa. Mereka telah mengumpulkan teman-teman mereka yang mendapatkan luka, sebagian dari pengawal bahkan terlihat mulai membantu orang-orang yang kehilangan rumahnya karena terbakar.

Panas matahari yang mulai menyengat kulit tidak dirasakan oleh Sukra maupun Pager Waja. Lalu kemudian Pager Waja menyadari kemampuan Sukra yang luar biasa, akhirnya melapisi pertahanannya dengan ilmu kebal yang ia miliki. Oleh karena itu, setiap ujung senjata Sukra yang menembus gulungan pedangnya tidak lagi membuatnya kewalahan. Kulit Pager Waja telah berubah sekeras besi tebal.

“Gila! Kulitnya benar-benar sekeras baja!” desis Sukra dalam hatinya.

Pager Waja menyeringai tajam, kemudian katanya, ”Apakah kau telah bersiap untuk mati, petani sial?”

“Tidak ada cara lagi untukku selain menang, Pager Kayu!” sahut Sukra seraya memukulkan belatinya pada pergelangan tangan Pager Waja.

Pager Waja menjadi terperanjat ketika lengannya bergetar dan rasa sedikit pedih merambati pangkal lengannya. Sebenarnya Sukra memang belum menyentuh kedalaman ilmu yang diajarkan oleh Ki Jayaraga dan Agung Sedayu, maka ia belum mengerti tentang pusaran tenaga yang berada di lapisan yang lain. Namun ia sering menyaksikan Sekar Mirah berlatih tenaga cadangan lalu diam-diam Sukra memahat setiap gerakan Sekar Mirah dalam benaknya.

Lantas ia bergerak surut mendekati salah seorang pengawal yang berdiri sangat dekat dengan lingkaran perkelahian. Tampak Sukra membisikkan sesuatu pada pengawal itu yang kemudian menganggukkan kepala lalu menyusup keluar dari kerumunan orang-orang yang mengelilingi perkelahian Sukra. Sejenak kemudian Sukra melemparkan senjatanya dan tegak berdiri menghadap Pager Waja.

Related posts

Leave a Comment