Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya

Ki Jayaraga tidak dapat berbuat lain selain memusatkan perhatiannya pada lawannya itu.  Dalam pada itu, Ki Jayaraga merasa telah memasuki jebakan yang sengaja dilakukan oleh Ki Garu Wesi. Ia salah membuat perhitungan karena ternyata Ki Garu Wesi benar-benar bertindak diluar batas.

Sementara itu udara telah berubah cepat menjadi panas dan lantai yang diinjaknya seolah seperti api yang membakar telapak kakinya. Terkadang Ki Jayaraga merasakan sambaran angin panas yang keluar dari balik lantai rumah Agung Sedayu. Tubuh Ki Garu Wesi terkurung dalam udara panas yang memendarkan warna kemerahan. Sambaran angin semakin sering terjadi dan semakin lama semakin panas.

Serangan Ki Garu Wesi menjadi semakin dahsyat dan tenaga inti miliknya seolah sudah tidak dalam kendalinya lagi. Ki Jayaraga tidak mempunyai pilihan lagi selain bertarung antara hidup dan mati. Ia menyadari meskipun pada akhirnya Ki Garu Wesi dapat meloloskan diri namun perlawanan keras darinya akan dapat merubah keadaan dan pendapat orang lain terhadap dirinya.

Ki Jayaraga juga memahami bahwa kematian Ki Garu Wesi pun tidak akan dapat mengurangi korban yang berjatuhan dari rakyat Tanah Perdikan. Tidak ada saat yang terbaik untuk mengalahkan Ki Garu Wesi melainkan saat-saat yang ia hadapi sekarang ini, pikir Ki Jayaraga.

Maka yang terjadi kemudian adalah Ki Jayaraga mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya. Lalu ia melepaskan tenaga intinya ketika tangannya telah terjulur menyentuh lantai.

Benturan dua kekuatan raksasa pun kemudian terjadi. Namun dalam pada itu tidak ada suara ledakan yang terdengar. Kedua ilmu yang mempunyai kemampuan meruntuhkan bukit batu itu bertumbuk dengan halus namun akibatnya adalah tanah bergetar hebat seperti terjadi gempa bumi. Tiang penyanggah rumah Agung Sedayu pun tergetar seperti terhantam batu hitam yang berukuran besar. Sambaran angin panas yang keluar melalui tenaga inti milik Ki Garu Wesi pun beubah menjadi jilatan api saat berbenturan dengan ilmu Panjer Bumi.

Dengan demikian, maka di dalam rumah Agung Sedayu telah terjadi pertemuan besar dua kekuatan raksasa. Keduanya telah mengerahkan segala kekuatan yang ada dalam diri mereka masing-masing.

Sementara Ki Jayaraga dan Ki Garu Wesi tenggelam dalam adu kekuatan dahsyat, Ki Gede Menoreh telah memasuki halaman rumah Agung Sedayu. Ia dapat merasakan udara panas yang keluar dari bagian dalam rumah. Sambaran angin panas sesekali keluar dari dalam rumah dan menyambar para pengawal yang melangkah maju.. Sehingga kemudian para pengawal Menoreh bergeser menjauh. Hanya Ki Gede Menoreh seorang diri yang berdiri tegak selangkah dari pintu dan ia bertopang pada tombak pendeknya.

Para pengawal itu menyadari, bahwa rumah Agung Sedayu bukan lagi menjadi tempat yang harus mereka amankan. Karena yang terjadi adalah nyawa mereka justru terancam apabila bergerak mendekati rumah Agung Sedayu.

Ki Gede menyaksikan kedua orang itu bertumpu pada lutut masing-masing dengan satu tangan menyentuh lantai. Ia dapat menilai keadaan yang terjadi di hadapannya. Meskipun terbersit keinginan untuk menolong Ki Jayaraga, namun keraguan pun datang  menyergapnya. Ia berpikir untuk membiarkan Ki Jayaraga menuntaskan perkelahian seorang diri, namun ia sendiri ingin dapat menangkap Ki Garu Wesi dalam keadaan hidup atau mati.

Kedatangan Ki Gede Menoreh di rumah Agung Sedayu bukan kebetulan. Ketika Ki Jayaraga menghadang Ki Garu Wesi yang menyelinap memasuki pekarangan rumah, seorang pengawal sempat melihatnya. Pengawal ini kemudian berlari menemui Ki Gede yang tengah berada di banjar pedukuhan. Ia melaporkan perkembangan yang terjadi di rumah Agung Sedayu, maka kemudian Ki Gede beserta beberapa orang pengawal segera memacu kuda menuju tempat pertemuan Ki Jayaraga dengan Ki Garu Wesi. Meskipun kedatangannya dapat dikatakan terlambat, tetapi Ki Gede telah dapat mengendalikan keadaan Tanah Perdikan Menoreh secara keseluruhan.

#*#

Di tempat yang lain, Sukra masih terlibat pertarungan keras dengan seorang lawan yang tangguh, Sukra mengalami keadaan yang sama dengan Ki Jayaraga. Ia harus bertempur dengan sekuat tenaganya.

“Anak petani sial! Hari ini adalah hari terakhir bagimu untuk bernafas di atas tanah ini,” kata lawan Sukra.

“Kau terlalu sombong, Ki Sanak. Lihatlah! Orang-orang sekelilingmu telah menyerah kalah lalu bagaimana kau dapat mengalahkanku?” sahut Sukra.

Related posts

Leave a Comment