Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya

“Ki Garu Wesi,” sahut Ki Jayaraga, ”dengan perbuatanmu dan setiap sikap yang dilakukan oleh pengikutmu terhadap Tanah Menoreh maka sesungguhnya kau tidak pantas disebut sebagai manusia lagi. Kau telah mendorong rakyat tanah ini untuk jatuh ke dalam jurang binasa. Meskipun aku tahu kekuatan hati rakyat Menoreh, tetapi aku tidak akan membiarkanmu dapat memenangkan pertempuran yang terjadi di seluruh Tanah Menoreh.”

Ki Garu Wesi tertawa keras mendengar kata-kata Ki Jayaraga. Katanya, ”Kejujuran yang selama ini kau banggakan sebenarnya penipuan yang meminjam nama kebersihan hati.”

“Aku tidak bangga dengan kejujuranku!” bantah Ki Jayaraga.

“Tentu saja kau akan berkata seperti itu,” sahut Ki Garu Wesi. “Dalam anggapanku, kejujuran dan kesetiaanmu adalah perbuatan keji yang terjadi begitu saja di Tanah Menoreh.”

“Lakukanlah sesuatu agar kau benar-benar dapat menjadi manusia suci, Ki Garu Wesi!” seru Ki Jayaraga sambil meloncat panjang menerjang Ki Garu Wesi. Dengan dahsyat ia menyerang lawannya, gerakan Ki Jayaraga berpusar hebat menimbulkan gemuruh angin seperti badai yang menyapu lereng Merapi. Sepasang kaki dan tangannya berputar melibat lawannya.

Dengan demikian maka perkelahian itu menjadi semakin sengit. Meskipun kulit keduanya telah memar namun keseimbangan perkelahian belum terpengaruh. Keduanya bertarung semakin garang. Selapis demi selapis perkelahian itu semakin menuju puncak. Namun tiba-tiba Ki Garu Wesi meloncat surut jauh, ia menyeringai tajam pada Ki Jayaraga. Tubuhnya sedikit merendah pada kedua lututnya yang renggang. Satu kepalan tinju telah siap memukul lantai rumah Agung Sedayu.

“Sulit!” desis Ki Jayaraga menghadapi perkembangan yang tidak terduga. Agaknya Ki Garu Wesi akan mengetrapkan ilmu yang mirip dengan ilmu Panjer Bumi miliknya. Maka Ki Jayaraga merasa segala sesuatu akan mengakibatkan rumah Agung Sedayu menjadi hancur. Dalam pada itu, Ki Jayaraga dihadapkan pada pilihan yang serba sulit. Karena ilmu Ki Garu Wesi akan tetap membuat rumah Agung Sedayu menjadi hancur berkeping-keping sekalipun ia menghindari benturan tenaga. Dan ia sendiri tidak yakin dapat lolos dari terjangan tenaga inti Ki Garu Wesi.

Dan sebaliknya, ia akan dapat menangkap Ki Garu Wesi apabila ilmu Panjer Bumi dibenturkan pada tenaga inti milik lawannya. Ki Jayaraga tidak melihat pilihan yang lebih baik dari membenturkan ilmunya. Maka kemudian ia bersiap diri melepaskan ilmu Panjer Bumi.

Tubuh Ki Jayaraga bergetar hebat ketika segenap kemampuannya mulai merambat setiap urat syaraf dan pembuluh darahnya. Selain itu, ia juga merasa sangat marah terhadap Ki Garu Wesi yang benar-benar tidak peduli lagi dengan akibat yang bakal terjadi.

Dengan demikian, maka kedua orang itu pun saling berdiri berhadapan. Tubuh mereka kokoh seperti patung yang terpahat pada tebing gunung. Keduanya akan menghentakkan ilmu yang berkekuatan dahsyat. Dalam pada itu, Ki Garu Wesi harus mengakui bahwa kekuatan orang-orang Menoreh memang sulit ditundukkan.

Ia telah mendengar orang-orang linuwih yang berdiam di Menoreh namun ia sendiri merasa bernasib baik dengan perkelahiannya melawan Ki Jayaraga. Ia tidak dapat membayangkan apabila ia berhadapan dengan Agung Sedayu sendiri atau Ki Waskita atau mungkin Empu Wisanata. Tetapi Ki Jayaraga yang tidak terlihat bekerja keras menandinginya telah membuat kesan tersendiri dalam hatinya.

Dari sorot mata Ki Jayaraga, maka Ki Garu Wesi telah mengerti jika lawannya tidak peduli lagi dengan keselamatan dirinya sendiri. Sebenarnya Ki Jayaraga memang telah mencapai batas akhir perhitungannya. Ia harus bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan Agung Sedayu kepadanya. Ki Jayaraga tidak mempunyai pilihan lagi selain membenturkan kekuatan raksasa yang dimiliknya. Menurut Ki Jayaraga, lebih baik rumah Agung Sedayu hancur seluruhnya daripada Ki Garu Wesi berhasil membawa kitab Kiai Gringsing, meskipun ia tahu bahwa kitab itu berada di Sangkal Putung.

Pada saat mata mereka saling menatap dan menjenguk ke bagian dalam perasaan masing-masing,  Ki Garu Wesi kemudian melakukan gerakan yang tidak terduga. Ia meloncat pendek lalu menghantam lantai rumah Agung Sedayu.

Saat hari semakin menjadi hangat, keadaan di dalam rumah Agung Sedayu menjadi semakin membara. Lontaran tenaga cadangan mengalir dari telapak tangan Ki Garu Wesi yang menyentuh lantai rumah seketika menjadikan udara menjadi hangat.

Related posts

Leave a Comment