Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya

Maka dengan begitu, lawan Sukra menjadi heran dengan kekuatan yang tersimpan dalam diri pengawal Menoreh yang menjadi lawan tangguh baginya. Betapa ia mendapati kulit Sukra menjadi liat, ia juga melihat gerakan Sukra masih tetap lincah meskipun mereka telah bertarung hingga matahari hampir menggapai puncak langit.

Asap yang mengepul tinggi terlihat dari barak pasukan khusus. Nada titir yang keluar dari setiap kentongan yang ada telah mencapai pendengaran para prajurit pasukan khusus. Beberapa di antara mereka menengok keluar dari barak dan mereka mendapati pemandangan yang membuat seluruh perwira pasukan khusus menjadi sangat terkejut.

“Apa yang sedang terjadi?” bertanya Ki Lurah Sanggabaya saat seorang pengawal pedukuhan telah melompat turun dari kuda.

“Kebakaran telah melanda seluruh Tanah Perdikan, Ki Lurah,” jawab pengawal pedukuhan itu.

“Kebakaran?” bertanya Ki Lurah Sanggabaya seraya berpaling pada seorang perwira disampingnya.

“Apakah kau telah melihatnya sendiri?”

“Tidak, Ki Lurah. Seorang pengawal memberitahukan padaku ketika aku berkuda menuju rumah Ki Rangga,” jawab pengawal.

“Aku dapat menduga siapa yang melakukannya,” Ki Lurah Sanggabaya berkata.

“Apakah kalian telah melihat kedatangan Ki Rangga?” bertanya seorang perwira pada prajurit jaga.

“Belum, Ki Lurah,” jawab seorang prajurit.

“Keadaan telah tiba-tiba menjadi genting dalam waktu singkat,” kata Ki Sanggabaya, ”kita tidak dapat menunggu Ki Rangga.” Kemudian ia dan sejumlah perwira mengeluarkan perintah pada pasukan khusus untuk bersiaga di sekitar barak.

“Sebagian dari kita akan membawa bantuan bagi orang-orang Menoreh,” kata Ki Lurah Wilayudha. Ia melompat ke atas punggung kuda lalu memberi perintah pada satu kelompok pasukan yang berada di dekatnya untuk memasuki pedukuhan induk.

Sepeninggal Ki Lurah Wilayudha, Ki Lurah Sanggabaya berkata lantang dihadapan seluruh pasukan khusus, ”Sesuatu yang gila sedang melanda Tanah Perdikan. Kita tidak dapat menutup kemungkinan bahwa barak ini mungkin akan mendapat serangan.”

Usai berkata di hadapan pasukan, Ki Lurah Sanggabaya terperanjat saat terlihat olehnya asap muncul dari bagian belakang barak. Seketika ia mengeluarkan perintah untuk memadamkan api yang mulai membakar bangunan tempat mereka menyimpan senjata. Dalam waktu itu, sekelompok pasukan khusus berhasil menghadang orang-orang yang melepaskan panah api pada dinding gudang senjata. Meskipun perintah bersiaga penuh baru saja dijatuhkan oleh pemimpin mereka, namun prajurit yang masih meronda masih belum melepaskan kewaspadaan. Sehingga mereka dapat melihat pergerakan pada bagian belakang barak.

Pertempuran dalam lingkaran kecil segera terjadi. Pengikut Ki Garu Wesi menjadi gelisah karena usaha mereka untuk dapat lolos setelah melepaskan panah api menjadi gagal. Mereka semakin resah karena para prajurit mulai mengalir menuju tempat pertempuran terjadi. Gerak pasukan khusus memang sangat tangkas. Mereka dapat memperkirakan kedudukan kawan-kawannya yang masih meronda sehingga ketika kebakaran terjadi maka mereka membagi diri dalam beberapa satuan kecil dengan tugas yang berbeda. Salah satu bagian telah sigap menjawab seruan peronda di bagian belakang.

Maka dalam waktu cukup singkat, pasukan khusus telah dapat meringkus orang-orang Ki Garu Wesi yang bertugas membakar barak.

“Apakah pemimpin pasukan khusus tidak memberi perhatian pada kebakaran yang terjadi di seluruh wilayah?” bertanya Ki Garu Wesi dalam hatinya. Ia berada di balik rerimbun tanaman perdu di salah satu lorong yang ada di jalanan pedukuhan induk. Pada waktu yang sama, seorang pengawal yang ditugaskan oleh Sukra untuk melaporkan keadaan genting pada Ki Rangga Agung Sedayu telah memasuki halaman rumah Ki Rangga. Seperti yang telah menjadi kebiasaan keluarga Agung Sedayu, maka pada pagi itu Ki Jayaraga telah bersiap untuk pergi ke sawah. Sementara Sekar Mirah pun tenggelam dalam kesibukannya di dapur. Halaman depan telah menjadi tugas Agung Sedayu untuk membersihkannya selagi Sukra atau Glagah Putih tidak berada di rumah. Latar halaman begitu rapi dan bersih, terlihat garis-garis sapu lidi hasil pekerjaan Agung Sedayu terukir di halaman.

Pengawal pedukuhan itu berbicara dengan nafas terengah-engah. “Ki Rangga!” panggil pengawal itu, ”pengikut Ki Garu Wesi telah membakar pasar di pedukuhan induk!”

“Tidak!” sahut Agung Sedayu nyaris tidak percaya berita yang ia dengar.

Related posts

Leave a Comment