Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya

Kemudian Sukra telah kembali ke induk pedukuhan. Wajah mereka terlihat tegang dan terbayang sorot mata kelelahan. Tetapi gejolak jiwa mereka masih tampak menyala dan menggelora dalam dada.

Sejenak kemudian mereka terkejut ketika terdengar kentongan dipukul dengan nada titir. Seorang lelaki tergesa menghampir kelompok Sukra, dengan tersengal-sengal ia berkata, ”Sukra! Kami melihat kepulan asap tebal di utara pedukuhan!”

Dahi Sukra berkerut, lalu, ”Apakah itu berarti kebakaran?”

Orang itu mengangguk. “Aku tidak meragukannya.”

Para pengawal itu saling bertukar pandang. Agaknya sesuatu yang besar telah terjadi di pedukuhan induk.

“Dari arah mana kau melihat kepulan asap itu?” Sukra bertanya.

“Arah menuju pasar,” jawab orang itu, ”atau mungkin pasar itu sendiri yang terbakar.”

Sukra memalingkan wajahnya ke arah pasar. Terlihat olehnya kemudian asap tebal dan hitam membumbung tinggi. Tak lama kemudian mereka mendengar nada titir bersahut-sahutan memenuhi udara Tanah Perdikan Menoreh.

“Agaknya mereka sengaja membakar pasar-pasar di setiap pedukuhan!” geram Sukra.

Agaknya pengikut Ki Garu Wesi membuat kekacauan dengan membakar sejumlah tempat yang ramai dikunjungi orang seperti pasar dan banjar-banjar pedukuhan. Mereka membakar beberapa tempat di seluruh pedukuhan yang tersebar di Tanah Perdikan Menoreh.

“Benar-benar gila!” Sukra meminta kawan-kawannya untuk segera menyebar dan memberitahu sejumlah orang-orang penting Tanah Perdikan.

“Sekarang saatnya menunjukkan siapa sebenarnya anak-anak muda Menoreh!” kata Sukra. “Laporkan segera pada Ki Gede dan Ki Rangga. Kau segera ke rumah Kakang Prastawa. Sementara aku sendiri akan membantu mengendalikan keadaan di pasar.”

Ketangkasan anak-anak muda Tanah Perdikan memang luar biasa. Mereka sangat cekatan melakukan banyak pekerjaan dan berbagi tugas. Akan tetapi kekacauan itu semakin tidak terkendali. Kerusuhan-kerusuhan mulai menjalari tiap pedukuhan. Bahkan telah terjadi penjarahan rumah saudagar kaya di sebuah pedukuhan yang terletak di sebelah barat pedukuhan induk.

Tanah Perdikan Menoreh segera dirundung muram dalam waktu sekejap. Cahaya matahari tidak lagi dapat dinikmati pada pagi hari. Bara api yang dibawa oleh Ki Garu Wesi dan pengikutnya menjalar sangat cepat. Raut wajah gelisah, marah, bahkan putus asa telah membayang wajah-wajah orang Menoreh. Namun ketika mereka melihat anak-anak muda mereka bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil, maka mereka seolah melihat terang dalam kegelapan. Harapan mereka kembali menyala.

Para pengawal Menoreh bahu membahu memadamkan api yang membakar setiap pasar dan banjar. Mereka berbagi tugas dengan yang lain untuk menjaga keamanan dari penjarahan. Maka kemudian pertempuran-pertempuran kecil kemudian terjadi di halaman rumah para orang-orang terpandang.

“Apakah aku tidak salah melihat asap tebal itu?” bertanya Ki Gede.

“Tidak, Ki Gede,” jawab seorang pengawal dari kelompok Sukra. “Kebakaran telah melanda pedukuhan induk. Dan kami juga telah bertemu pengawal dari pedukuhan lain yang mengatakan keadaan yang sama.”

Related posts

Leave a Comment