Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya

Sementara itu di rumah Prastawa, Sukra mendengarkan penjelasan Prastawa sebagai Kepala Pengawal Tanah Perdikan Menoreh, “Kita memang hanya dapat menunggu. Kita tidak dapat bergerak tanpa isyarat yang telah kita tentukan sebelumnya, Sukra.”

“Mungkinkah kita lakukan sesuatu untuk memancing mereka keluar, Kakang?”

“Itu tindakan gegabah. Karena pasukan khusus pun harus mengetahui terlebih dahulu rencana untuk memancing gerakan lawan. Sementara kita akan mengalami kesulitan bila mengubah siasat yang telah disusun sebelaumnya dengan tiba-tiba.”

Kemudian Prastawa menatap lurus Sukra .”Apakah kau telah mengatakan apa yang kau alami di sawah bersama Ki Jayaraga?”

“Belum, Kakang.”

Prastawa menghela nafas, ia berkata, ”Aku sebenarnya mengkhawatirkan keadaan paman apabila ia mengetahui apa yang telah dialami Ki Jayaraga bersamamu.” Sambil mengusap keningnya, Prastawa berkata lagi, ”Aku membayangkan bagaimana perasaan paman apabila beliau mendapat tuduhan telah melindungi orang yang mereka nyatakan bersalah. Sementara ketiga murid Ki Jayaraga harus menerima kematian di Tanah Perdikan karena ulah mereka sendiri.”

Sukra mengerutkan kening, sesaat kemudian ia bertanya, ”Apakah itu berarti orang-orang asing itu mencoba untuk menggerus kepercayaan orang-orang Menoreh pada Ki Gede?”

Prastawa mengangguk. Kemudian terdengar Sukra berdesis dengan tegas, ”Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”

Bahwa malam itu kemudian berlalu tanpa ada sesuatu yang terjadi. Saat fajar hampir merekah,  orang-orang Menoreh telah bangun dan dengan sigap mengawali hari mereka dengan semangat baru. Mereka masih belum menampakkan gelagat apabila mereka sebenarnya dalam kewaspadaan tinggi.

Sementara orang-orang Ki Garu Wesi menjadi berdebar dengan rencana yang telah mereka siapkan untuk dijalankan pada permulaan hari. Mereka memperhitungkan bahwa keadaan Tanah Perdikan akan masih tetap seperti hari-hari sebelumnya. Sebagian besar dari mereka kembali melihat bagian dalam rencana dengan teliti. Mereka kembali mengingat bentuk isyarat yang akan diberikan. Jalur-jalur yang akan menjadi tempat pelarian dan sebagainya juga mereka kaji kembali.

Sebagian kecil orang-orang Ki Garu Wesi menampakkan kegelisahan yang memenuhi rongga dadanya. Meskipun demikian, mereka terlihat mampu bersikap sabar dan menunggu perintah dari pemimpin mereka.

Demikianlah maka Sukra kemudian meninggalkan rumah Prastawa beserta beberapa pengawal lainnya. Ia telah menerima perintah Prastawa untuk mengamati setiap lorong yang mempunyai kemungkinan terbesar akan dilalui oleh pengikut Ki Garu Wesi. Dan seperti pesan Prastawa sebelumnya, Sukra harus mampu membuat perhitungan apabila ia menemui suasana yang berbeda dengan perkiraan mereka. Ia harus mampu menunjukkan kekuatan baru yang dimiliki oleh Menoreh.

Maka ketika pasar mulai dipadati oleh banyak orang, ketika jalanan mulai mengepulkan debu maka Ki Garu Wesi memerintahkan sejumlah orang untuk mendekati pusat-pusat pedukuhan. Sekejap kemudian orang-orang Ki Garu Wesi merayap dan menyebar memasuki induk-induk pedukuhan.

“Mereka masih belum terlihat telah bersiap,” kata Ki Tunggul Pitu. “Mereka akan membayar mahal atas kelengahan yang mereka timbulkan.”

Ki Garu Wesi menganggukkan kepalanya. Ia berkata, ”Aku akan berada tepat di jalur yang menghubungkan rumah Agung Sedayu dan barak pasukan khusus.”

“Apakah kau telah bersiap apabila kemungkinan yang lain dapat terjadi?” bertanya Ki Tunggul Pitu.

Kembali Ki Garu Wesi menjawab dengan anggukkan kepala. Kemudian katanya, ”Yang pasti aku akan menghindari perang tanding dengannya.“

“Perang tanding itu tidak perlu dilakukan,” Ki Tunggul Pitu menyahutinya. “Kita akan membuang waktu yang sangat banyak apabila Anda meladeni Agung Sedayu. Jadi aku kira Agung Sedayu akan berusaha keras mengikatmu dalam perkelahian jika memang kalian akhirnya harus berjumpa.”

“Aku kira memang akan seperti itu seperti yang telah berlalu,” kata Ki Garu Wesi. “Setiap pemimpin akan terlebih dahulu dikalahkan untuk menjatuhkan kejiwaan para pengikutnya. Tetapi kelompok kita akan membuat perbedaan.”

Kemudian mereka mendapat laporan bahwa di garis depan telah bersiap orang-orang Ki Garu Wesi akan menjadi pemukul. Orang-orang yang menjadi penghubung Ki Garu Wesi melaorkan jika orang-orang mereka telah berada dalam jarak yang terukur. Maka dengan begitu mereka akan dapat mengalirkan rencana agar dapat berjalan sesuai harapan. Dan pada laporan yang lain, kedua orang ini menerima berita apabila orang Menoreh masih belum terlihat melakukan kegiatan apapun.

Pada waktu bayangan telah memanjang, orang-orang Menoreh belum menyadari bahaya besar yang telah siap meledak di hadapan mereka. Para pengawal pun sebenarnya masih dalam keadaan siaga, sementara Sukra dan kelompoknya masih menjelajahi tiap lorong-lorong jalanan di Tanah Perdikan namun mereka belum menemukan sesuatu yang dapat dicurigai.

Related posts

Leave a Comment