Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya

Sementara itu dua orang pengawal telah bertemu dengan Ki Gede sambil melaporkan perkembangan terakhir. Ki Gede Menoreh mendengarkan laporan itu sambil berpikir keras mencari jalan keluar.

“Jadi Ki Rangga tidak mengubah siasatnya?” tanya Ki Gede kemudian.

“Kami tidak mendengarnya berkata tentang siasat, Ki Gede. Hanya saja Ki Rangga masih berada di tempat itu pada saat kami menuju rumah Ki Gede,” jawab seorang pengawal.

“Baiklah, kalian boleh bergabung dengan yang lain,”kata Ki Gede. Dua orang itu segera pergi meninggalkan Ki Gede dan bergabung dengan teman-temannya yang berjaga di regol rumah Ki Gede Menoreh.

Ki Gede terlihat berpikir keras. Ia menduga jika Agung Sedayu memang tidak akan mengubah siasatnya karena Agung Sedayu adalah seorang senapati yang menguasai banyak gelar perang. Tetapi ia juga tidak akan mempunyai keberatan apabila Agung Sedayu secara mendadak mengubah siasatnya apabila pergerakan pengikut Ki Garu Wesi mampu memberi tekanan besar pada kekuatan Tanah Perdikan.

“Mengubah siasat secara tiba-tiba tentu membutuhkan waktu yang cukup, sementara para pengawal dan pasukan khusus terpisah dalam jarak yang berjauhan,” gumam Ki Gede. Ki Gede lantas bangkit dan memanggil pemimpin pengawal yang berjaga di regol halaman.

“Apakah tidak ada laporan dari peronda yang mungkin melihat pergerakan kecil yang mencurigakan?” bertanya Ki Gede kemudian.

“Tidak ada, Ki Gede,” jawab pemimpin pengawal.

“Keadaan seperti ini sebenarnya sangat membahayakan. Karena mereka tiba-tiba saja meninggalkan perkemahan, tetapi kalian tidak dapat melihat pergerakan yang merembes memasuki wilayah Tanah Perdikan,” kata Ki Gede.

“Kami menyadari bahaya itu, Ki Gede,” kata pemimpin pengawal. “Maka kemudian kami menunggu apapun perintah yang akan dijatuhkan dan kami akan cepat menyesuaikan diri.”

“Aku senang mendengarnya,” kata Ki Gede. Lantas pemimpin pengawal itu minta diri untuk kembali ke gardu jaganya.

Di rumah Agung Sedayu pada saat itu, Agung Sedayu dengan wajah sungguh-sungguh duduk bertiga bersama Sekar Mirah dan Ki Jagara.

“Mungkin mereka ingin mengacaukan ketahanan jiwa orang-orang Tanah Perdikan, terutama para pengawalnya,” kata Ki Jayaraga. “Kita harus mengakui dengan jujur bahwa siasat mereka untuk tiba-tiba menghilang itu memang berhasil.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya, lalu,”Apa yang menjadi ukuran keberhasilan itu, Kiai?”

“Bukankah kita saat ini masih menebak arah kemana mereka pergi? Sedangkan kita juga belum mengetahui darimana mereka berasal,” jawab Ki Jayaraga. “Dan ternyata mereka memang berhasil membangun kebingungan diantara kita.”

Lalu Sekar Mirah berkata,”Meskipun aku belum dapat menerima penilaian Ki Jayaraga, namun aku dapat mengerti maksud Kiai.”

“Kita harus dapat memancing mereka keluar,” kata Agung Sedayu.

Ki Jayaraga menatap lurus padanya. Lalu,”Apa yang kita lakukan, Ngger? Sementara kita tidak mengetahui keberadaan mereka sekarang.”

“Mereka tentu melihat para peronda melanglang menyusur tiap jengkal wilayah ini, namun mungkin mereka sedang menunggu di suatu tempat,” jawab Agung Sedayu. “Dan maksudku adalah para pengawal dan peronda harus mampu menyamarkan diri sedemikian rupa hingga selah-olah tidak terlihat lagi para peronda dan apapun yang berhubungan dengan para pengawal. Namun demikian, kita tidak boleh kehilangan kewaspadaan.”

“Apakah itu berarti kau menginginkan mereka menyangka bahwa wilayah ini telah siap untuk dijadikan mangsa?” bertanya Ki Jayaraga.

Agung Sedayu mengangguk. Setelah merenung sesaat, ia berkata kemudian,”Mereka telah memperoleh waktu yang cukup pada saat mereka mulai mengamati lingkungan ini. Ada beberapa pertanyaan yang sebenarnya telah terjawab dengan gelar yang telah kita putuskan. Namun aku merasa ada sesuatu yang menahan mereka sehingga mereka tidak segera melakukan penyerangan.”

“Aku kira jika mereka telah menginginkan kitab milik gurumu, mungkin mereka tidak merasa perlu untuk bergerak secara terbuka,” Ki Jayaraga berkata,” kecuali kitab Kiai Gringsing hanya menjadi sebuah alasan untuk tujuan yang lebih besar.”

“Apakah kita hanya akan menunggu perkembangan?” bertanya Sekar Mirah dengan tatap mata bergantian memandang dua orang dihadapannya.

“Seperti yang aku katakan tadi, mereka masih menahan diri. Dan kita juga akan menahan diri untuk tidak melakukan apapun. Mereka sepertinya sedang menunggu Tanah Perdikan Menoreh membuat satu kesalahan kecil atau kita menjadi lengah,” Agung Sedayu menjawabnya dengan sorot mata penuh percaya diri.

Related posts

Leave a Comment