Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya

“Saya mengerti, Ki Gede,” Sukra berkata lirih.

“Mungkin akan ada anak buahmu yang lepas kendali. Dan jika itu terjadi maka keadaan yang berkembang kemudian adalah tanggung jawabmu.” Agung Sedayu berkata padanya. Sukra mengerutkan keningnya namun ia tidak mempunyai keberatan mengenai tanggung jawab itu. Sukra hanya merasakan darah di dalam tubuhnya mengalir lebih deras dan dada berdegup kencang.

Prastawa berkata kemudian, ”Pergilah. Atau mungkin kau akan mengatakan sesuatu.”

“Tidak ada, Kakang,” kata Sukra sambil meminta diri.

Sementara itu, malam semakin lama gelap dan pekat. Angin dingin yang datang dari Merapi menyapu seluruh lembah yang mengitarinya. Hawa dingin terasa hingga ke tulang belulang. Penduduk di pedukuhan-pedukuhan di Menoreh lebih memilih untuk berada di dalam rumah. Gardu-gardu jaga yang tersebar di seluruh Tanah Perdikan tampak lengang. Bahkan di barak pasukan khusus pun seperti tidak terlihat tanda-tanda kehidupan.

Meskipun keadaan malam itu seperti mencekam perasaan, para peronda tetap hilir mudik menyusuri setiap lorong dan mengamati jalan-jalan yang sepi dilalui orang pada malam hari. Sejumlah obor menebar cahaya remang-remang. Bayangan daun dan pohon bergerak-gerak saat obor tertiup angin. Suasana begitu hening dan senyap.

Dalam pada itu, sejumlah orang yang terbagi dalam banyak kelompok telah mengirimkan orang untuk mengawasi mulut-mulut lorong. Mereka juga membuat tanda-tanda khusus pada tempat tertentu sebagai bagian dari usaha yang akan mereka lakukan esok hari. Sebagian kecil dari orang-orang itu menempatkan senjata-senjata jarak jauh seperti anak panah dan pelontar batu yang terbuat dari bambu yang lentur.

Prastawa juga telah mengatur kelompok-kelompok para pengawal dengan rapi dan teliti. Maka kelompok para pengawal akan dapat mengalir pada setiap titik pertempuran dan mereka tidak akan membuang waktu lama untuk mencapai setiap daerah yang diperkirakan akan terjadi benturan.

Sukra tampak berada diantara para peronda yang memeriksa setiap lorong dan jalan. Sukra yang ditugaskan Prastawa untuk melihat persiapan benteng pendem dan beranting yang direncanakan Agung Sedayu. Kelengkapan senjata yang dimiliki Tanah Perdikan Menoreh nyaris mendekati senjata-senjata prajurit Mataram. Maka dengan begitu muncul semacam rasa bangga di dalam dada para pengawal. Mereka yakin dan percaya diri dengan kekuatan yang ada pada mereka. keyakinan dan kepercayaan diri bahwa mereka akan sanggup mempertahankan tanah kelahirannya dari setiap serangan.

Bahkan sering kali Sukra dan kelompoknya berjalan mengitari daerah luar pedukuhan induk. Mereka memilih untuk menempuh jalan yang menuju letak perkemahan Ki Garu Wesi.  Tidak banyak pembicaraan yang terjadi diantara mereka. Agaknya para pengawal Menoreh menyadari jika mereka lebih membutuhkan mata dan pendengaran untuk menangkap adanya gerakan yang tersembunyi.

Sukra dapat merasakan ketegangan yang mengendap dalam dada teman-temannya. Sekali-kali mereka bercanda akan tetapi agaknya mereka terbawa oleh suasana yang mencengkam.

“Mereka telah meninggalkan perkemahan,” berkata salah seorang kawan Sukra.

Mereka kemudian mengedarkan pandangan dan merayap mendekati lembah sempit yang menjadi tempat perkemahan pengikut Ki Garu Wesi.

Sukra saling bertukar pandang dengan teman-temannya. Mereka tidak melihat satu gerakan atau sesuatu yang mencurigakan di sekitar lembah sempit.

“Sukra! Apa yang harus kita lakukan?” bertanya seorang lainnya.

Jantung mereka berdentang semakin cepat memukul tulang dalam dada. Tidak terlihat apapun di hamparan tanah lapang yang berada di lembah selain tumbuh-tumbuhan. Perkemahan dan nyala obor yang pernah mereka lihat sebelumnya telah menghilang dari pandangan.

“Kemana mereka pergi?” bertanya Sukra.

Para pengawal Tanah Perdikan tidak menyadari ada sepasang mata yang berdiri mengawasi mereka dalam jarak yang cukup dekat.

“Apakah mereka telah memasuki pedukuhan?” bertanya seorang pengawal.

“Aku tidak tahu,” jawab Sukra. Kemudian seorang pengawal yang lebih tua bertanya padanya,”Bukankah kau telah bertemu dengan Ki Gede serta Ki Rangga Agung Sedayu?”

Sukra mengangguk. Jawabnya,”Benar. Tetapi mereka berdua sepertinya juga tidak mengetahui kepergian orang-orang ini.” Sambl berdiri menghadap kawan-kawannya, Sukra berkata kemudian,”Aku akan laporkan ini pada Ki Rangga. Dua orang dari kalian pergi menemui Ki Gede. Sementara yang lain segera bergabung dengan kelompok yang dekat dengan perkemahan ini.”

Related posts

Leave a Comment